<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <atom:link href="http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
        <title>cerpen-indah</title>
        <description>cerpen-indah</description>
        <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah.php</link>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 19:51:50 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
        <item>
            <title>Maling Teriak Maling</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/maling-teriak-maling</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;''Maling.....maling....ada maling.......!'', Suara nyaring terdengar bagai petir di siang hari , menggelegar ditelingaku seakan membangunkan macan tidur , yang lelah akibat kekenyangan ( lho kok bisa lelah karena kekenyangan ya ? )..................&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font style=&quot;color: rgb(51, 51, 51); font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tergesa-gesa aku mendekati sumber suara, yang lebih layak terdengar seperti orang jualan obralan di pasar saja pikirku. Tertegun aku sejenak melihat sang pemilik rumah memaki satpamnya,'' Guuooobbloook......kerjamu tiduuuur...saja..! Maling masuk aja ngga tau ....!'', Maki sang bos dan seketika itu juga satpam tertunduk lesu penuh rasa bersalah. Dengan nafas sesak dan terengah sang bos meninggalkan satpam yg masih tertunduk seperti menahan nafas. Setelah hilang dari pandangan ku hampiri satpam itu......'' Ada maling , Pak ?'', tanyaku sembari memegang pundaknya yg jauh dari kata ber''otot''. '' Oh...yang tadi...bukan maling dek.....cuma pemulung masuk mengais tong sampah dalam pagar rumah..!'', jawabnya lepas tapi masih toleh kanan kiri seakan memastikan situasi aman. '' Loh....kok segitunya pak .....kayak....kerampokan aja he he he...!'' sungutku sewot diiringi senyum nyengir tak percaya....'' Apa yg hilang...?'', lanjutku. '' Ngga ada dek......wong tadi saya liat dia mengais kok'', jawabnya sambil duduk meraih kursi.'' Hm.....oh gitu toh...kalau gitu saya cabut dulu ya pak'' , kataku sembari pergi kembali ke rumahku.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebulan berlalu....semua berjalan seperti suasana monoton yg membosankan. Hingga suatu hari terlihat banyak wartawan dan kameramen berkumpul didepan rumah yg sebulan lalu meneriakkan maling pada pemulung yg masuk ke rumahnya. Hm......seperti pembagian sembako saja rumah orang kaya itu pikirku, otomatis tergelitik aku untuk mendekatinya.'' Ada apa rame rame mas.....?'' tanyaku pada salah satunya. ''Meliput berita dek .......ngga tau ya ......bapak yg punya rumah ini baru ditangkap karena dugaan korupsi..!'', kata seorang wartawan penuh semangat. Aku hanya manggut - manggut saja sambil memperhatikan rumah megah yg kelihatan kosong dari luar. Tak lama tampak sebuah mobil meluncur keluar pagar dan langsung diburu wartawan tadi. '' Ah.....ada ada saja pikirku...!'' gumamku pelan sembari melangkah menuju rumah. Tertegun sejenak pandanganku pada salah satu sosok yg mengais tong sampah diseberang jalan. Kontan keningku berkerut '' Kasihan.....'', lagi lagi gumamku pelan sambil melangkah pulang.&amp;nbsp;Gubraakkk .......mana sendalku yg baru kubeli kemaren, terlihat rak sepatu diluar acak acakan , Ya Ampun berarti yg dipakai pemulung tadi pikirku.......sontak gambaran dimemoriku mencoba mereview kembali lalu mencoba mencari pemulung yg sudah hilang dari pandanganku tadi.'' Dasar maling....!'' Pikirku penuh kedongkolan. Lemas........ kuhempaskan badanku di kursi teras dan duduk menghadap ke rumah megah tepat didepan rumahku itu. Tak lama tersungging senyum dibibirku '' Maling teriak maling....!'' otakku mencerna mengkaitkan peristiwa sebulan lalu antara pemulung dan pemilik rumah megah yg diduga koruptor itu.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;span class=&quot;yui-non&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 08:57:20 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Tangga Tangga Menuju Neraka</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/tangga-tangga-menuju-neraka</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;Azan magrib berkumandang seiring meredupnya cahaya mentari dari pandangan mataku. Dinginnya angin senja...... Seakan membekukan kakiku untuk tidak beranjak dari tempat itu. Tersenyum aku memandang sebuah nisan yg bertuliskan sebuah pesan. Pesan dari seorang pengusaha muda yang pernah mengalami suatu kegagalan dalam hidupnya. Kegagalan yg patut untuk membuat seseorang........ berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Benar sekali, didalam hidup selalu ada pilihan. Pilihan untuk menentukan langkah menuju sebuah harapan atau....... berhenti sehingga semua hanyalah mimpi dan tinggal kenangan. Kisah ini mungkin pernah terjadi pada setiap orang yg pernah mengalami kegagalan yg luar biasa, namun bila ia melihat nisan pesan itu .....mudah-mudahan ia melupakan niat sesatnya untuk menghadap Tuhan lebih cepat yg tanpa undangan apalagi tanpa dijemput oleh utusan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;''Sial.... Aku tertipu ...!'', umpatku setelah salah satu staff mengatakan bahwa rekan bisnisku telah lari tanpa membayar hutangnya sepeserpun. Keringat mengucur dari keningku mengingat barang itupun belum kubayar dari produsen utama. Mungkin tepatnya orang-orang memanggilku sebagai seorang broker. Kurebahkan badanku kekursi dengan pasrah....lemas....hilang sudah tenaga yg tersimpan dalam sendi-sendiku. Kupejamkan mataku sesaat namun kantuk tak kunjung menghampiriku juga. '' Hancurlah aku....!'', bisikku seakan berbicara pada diriku sendiri. Hari demi hari berlalu dan aku hanya menanti tanggal penagihan itu datang. Hari yg ditunggu itupun akhirnya tiba. Seorang utusan memberikan surat jatuh tempo pembayaran utang. Hm....baru yg pertama , ada kesempatan bagiku untuk mencari utang dan mengejar keuntungan untuk menutup itu. Namun dugaanku meleset , Indonesia mengalami gejolak ekonomi yg hebat....mungkin tak perlu kusampaikan karena semua pasti tahu mengenai zaman itu. Surat kedua datang lebih cepat dari dugaanku, kali ini ada red notes diatasnya.....''DIMOHON UNTUK SEGERA MELUNASI BILA TIDAK KAMI AKAN MENGAMBIL JALUR HUKUM'', tegas kalimat itu berhuruf besar dan bertinta merah. Kali ini tubuhku tidak lemas lagi……….. tapi mulai mati rasa. Keringat bukan bercucuran lagi tapi giliran mataku yg mulai mengalir setetes demi setetes. Begitu keras cobaan ini bagiku, seakan tak kuasa lagi aku untuk menahan semua beban cobaan ini. Kuraih surat itu dan sekali lagi kumasukkan dalam laci mejaku. Kutarik nafasku sekali lagi dan kubakar semangatku kembali sesuai prinsip ''Banyak jalan ke Roma''. Berbeda dgn sebelumnya, kali ini aku membalas surat tagihan itu untuk meminta penangguhan waktu dengan alasan modal tertahan dalam bentuk barang. Satu bulan berlalu , kondisi ekonomi tak kunjung baik juga waktu itu. Penjualan gagal dan hanya memperoleh keuntungan yg sangat minim. Hari demi hari terasa berat bagiku. Kuputuskan untuk kembali kerumah lebih cepat hari ini, dengan langkah lunglai kutinggalkan gedung yang salah satu lantainya adalah kantor yang kusewa sejak dua tahun lalu. GUBBBRAAAKKK…….kutolehkan pandanganku kebelakang ….sesosok tubuh bergelimpang darah dan kepala yang pecah telah kaku seiring melayangnya nyawa pria itu ….miris sekali bagiku…sungguh sangat menyeramkan. Beberapa detik orang – orang terpana memandang tubuh kaku itu….hingga beberapa detik kemudian seorang wanita menjerit histeris setelah itu dan aku hanya bisa menelan ludahku sendiri dan keringat dingin menetes dari pelipis keningku. Pedih …..dan segera kutinggalkan tempat itu, di saat beberapa orang polisi menutup lokasi itu dan bayangan peristiwa tragis itu masih bergelayut di sisi gelap benakku,&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Satu bulan sejak surat penagihan kedua, seorang yang mengaku sebagai pengacara dgn ditemani beberapa Polisi datang ke ruangan kantorku. Mereka menyerahkan surat panggilan sebagai tersangka penipuan dan pengacara itu menolak untuk menerima pembayaran secara cicilan dariku. Putus sudah harapanku…..terbayang jeruji besi dan lantai semen yang dingin akan selalu menemaniku dalam beberapa hari lagi. Bergetar tanganku…..lalu berdiri kaku saat mereka meninggalkan diriku seorang diri, yang tak mampu bergerak lagi walaupun untuk memejamkan mata sekalipun.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kuambil sehelai kertas dari laci mejaku dan kutuliskan sebuah surat dengan airmata yang terus menetes tak terbendungkan lagi :&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wahai Istriku yang selalu tabah mendampingi diriku. Hari ini…. saat engkau membaca surat ini ….. aku telah tiada dari hadapanmu. Aku tahu…… betapa malunya dirimu saat itu namun aku sudah tak mampu untuk melanjutkan kehidupan ini lagi.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wahai istriku, sampaikan pada anak kita bahwa aku tak sempat melihat mereka tumbuh dewasa dan yang pasti aku tak mungkin melihat mereka menangisi kepergianku namun gantikan aku dalam memberikan senyummu setiap mereka bertanya tentang aku….. karena mereka akan malu kelak, bila mereka tahu tentang kepergianku. Wahai istriku……yang tak pernah lelah untuk mencintaiku……sampaikan salam hormatku pada ayah dan ibuku ……mereka pasti malu atas kepergianku ini…..kepergian yang tak membuat mereka bangga karena telah melahirkanku. Wahai istriku …… yang telah memberikan cinta sepenuh hatimu padaku, selamat tinggal dan janganlah engkau tangisi kepergianku karena aku tidak patut untuk engkau tangisi…….. tapi sesuatu yang patut engkau lupakan dalam hatimu dan dalam hidupmu……………………………………………………….&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kulipat surat itu lalu kuletakkan diatas meja dan ku tindih dengan vas bunga. Yah….setangkai bunga mawar pemberian istriku, untuk memberiku semangat hari ini sebagai tanda cinta kasihnya padaku. Ku langkahkan kakiku dengan gemetar…..gemetar menuju gerbang kematian hari ini. Singkat cerita saat aku menaiki lift, aku berjumpa dengan penjaga lift dan dia bertanya hendak ke lantai berapa bila aku hendak naik ke atas. Setelah kusebutkan lantai teratas, seakan dia tahu niat dan tujuanku. Dia mencegahku dan menasehatiku dengan berbagai macam cara dan upaya. Yah…..akhirnya aku gagal bukan karena nasehatnya tapi karena diriku tak tahan untuk menunggu lebih lama lagi. Aku pergi meninggalkan lift itu dan mencari tangga menuju keatas diiringi pandangan penjaga lift itu yang terlihat sedih atas kepergianku. Lantai demi lantai kunaiki dan berhenti aku sejenak karena kecapean sambil mengatur nafasku kembali. Kali ini aku berjumpa dengan seorang cleaning servise dan menanyakan aku hendak ke lantai berapa karena melihat diriku kelelahan menaiki tangga. Sekali lagi kusampaikan bahwa diriku hendak ke lantai teratas menuju atap gedung dan sama seperti penjaga lift tadi, dia berusaha mencegahku dengan berbagai macam upaya hingga HPnya berdering dan terdengar perintah turun dari salah satu rekannya. Diakhir kata ia mengatakan betapa sedihnya keluargaku bila mengetahui tentang itu, lalu ia meninggalkanku dengan tatapan sedih melihat kepergianku yang meniti tangga demi tangga. Mataku berkunang kunang dan tenggorokanku kering saat aku telah mencapai lantai teratas dari gedung itu. Berhenti sejenak dan kusandarkan diriku pada salah satu dinding di pembatas atap itu, ’’ Mau mati saja begitu susahnya’’, pikirku, melintas begitu saja dari benakku. Tak lama kemudian aku berdiri dan berusaha mencari tangga hingga akhirnya aku menemukan pada salah satu sudut atap gedung itu. ” Tunggu, nak……. aku tahu untuk apa kedatanganmu hari ini ’’, suara serak orang yg sangat tua terdengar agak kurang jelas dibelakangku. Kutolehkan ke belakang pandanganku. ” Berikan kesempatan bagiku untuk mengakhiri hidupku sebelum dirimu mengikuti jejakku”, katanya lagi dengan senyum keyakinan akan menuju kematian. Hm…ternyata daftar menuju kematian yang sesat agaknya bukan hanya namaku hari ini. ” Baiklah , Pak tua sebagai yang muda….aku mempersilahkan dirimu mendahului dari diriku…..!”, kataku mempersilahkan dirinya. Ketika ia memegang tangga itu, timbul keheranan dibenakku dan terusik keingintahuanku untuk menanyakan mengapa ia ingin mengakhiri hidupnya dengan tragis hari ini. ” Pak tua…..sebelum engkau terjun kebawah sana ….bolehkah aku bertanya padamu ?’’, kataku seketika terloncat begitu saja tanpa kusadari lagi. Dengan tersenyum Pak tua itu berbalik dan berdiri dihadapanku…….”Bagiku sudah tiada guna lagi hidup ini, nak ……semua sudah kudapatkan …..istri yang baik dan setia…….anak yang telah dewasa dan membanggakan bagiku……….kesuksesan dan kehidupan yang mewah………semuanya telah kuraih …..jadi patutkah aku untuk hidup lagi ?”, katanya dengan senyum yang meyakinkan lagi. Deg….jantungku berdegub kencang dan benakku semakin bingung dibuat pak tua ini.”Bukankah engkau tidak dalam kegagalan , Pak tua ? ……. mengapa engkau mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini ?”, tanyaku dengan mengkerutkan keningku dan menatapnya dari ujung kaki hingga rambutnya yang telah memutih, ”tak mungkin ia orang gila”, benakku memberikan jawaban atas pandangan mataku karena lelaki ini terlihat sangat rapih dan bersih. ” Lalu mengapa engkau mau mati dengan cara ini juga , nak ?”, balik ia bertanya yang tak terduga olehku. Dengan gagap aku menjawab,”Tentu saja karena aku mengalami kegagalan dalam hidupku”, masih tersisa rasa kaget pada pertanyaannya yang tiba-tiba itu. ”Hm….engkau sungguh manusia yang rugi , nak !........dirimu belum mendapatkan apa-apa dalam hidupmu dan kini engkau mau mengakhiri hidupmu tanpa meraih apa-apa, nak”, katanya dengan mantap dan tak lupa senyum tersungging dibibirnya yang pucat karena ditelan usia. Sekali lagi kaget diriku mendengar ucapannya …sungguh tak terduga…..dan aku hanya bisa menelan ludah seketika. Otakku berputar untuk melawan ucapan pak tua itu…..semakin banyak darah mengisi otakku dengan penuh oksigen dan nutrisi protein tinggi. ” Wahai Pak tua……bagiku tak layak kematian seperti ini mendampingi dirimu……sudahkah engkau mengucapkan salam perpisahan dengan seluruh keluarga….sahabat…..dan rekanmu ? bila belum …..pulanglah dan datanglah dilain waktu”, kataku dengan lembut padanya dengan sedikit bujuk rayu. ”Aku sudah mengucapkan hal itu melalui surat terakhirku , nak !.......walau mereka sudah tak ada disekitarku lagi…….mereka sudah tak peduli lagi padaku……dan banyak yang telah mendahului pergi selamanya dariku”,Ungkap Pak tua itu ….kali ini dengan muka sedih terlihat dari raut wajah tuanya. ” Tapi aku masih peduli padamu hari ini , pak tua ”, mendadak kata-kata itu terlontar tanpa kusadari begitu saja. ” Benarkah itu….?”, tanyanya yang langsung berubah senyum kembali diwajahnya. ” Ya Pak tua…..! ”, kataku mantap dengan senyum tersungging manis dibibirku lalu memeluk pria tua itu dan kali ini reflek tanpa kusadari lagi. ” Kalau begitu aku membatalkan kematianku hari ini…..karena masih ada yang peduli padaku……dan masihkah ada orang-orang yang peduli dan menyayangimu wahai anak muda ..?”, tanyanya dengan lembut padaku. ” Ya ada, pak….”, kataku pelan namun masih jelas terdengar olehnya. ” Kalau begitu hari ini kita belum waktunya…. untuk mengakhiri hidup dari atas atap gedung ini, nak”, katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. ” Ya …pak…! ”, kataku tertunduk malu karena untuk bunuh diri saja aku gagal melakukannya. ” Sudahlah ….kalau begitu marilah kita pulang dan bertemu esok hari karena hari ini sudah sore, nak !”, katanya dengan senyum lebar sambil merangkul pundakku untuk meninggalkan tempat itu. Yah…..akhirnya hari itu aku gagal melakukan suatu perbuatan besar dalam hidupku ….ya….perbuatan dosa terbesar dari larangan Tuhanku.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keesok harinya kembali aku keatap itu tapi bukan untuk bunuh diri, tetapi untuk bertemu dengan pak tua itu karena kami sudah berjanji kemaren ditempat ini. Hari ini dia tidak datang juga besoknya dan besoknya lagi hingga hari ketiga aku tidak ke atas atap lagi dan menganggap mungkin dia sudah lupa atau ada pekerjaan lain yang tidak bisa ia tinggalkan dan lebih penting dari pertemuan kami ini, yang hanya sekedar bertukar pikiran saja, hingga suatu hari salah satu staffku datang dengan terengah-engah keruanganku dan mengatakan bahwa pengacara yang dulu itu dan beberapa orang polisi datang. ”Apakah Polisi itu datang dengan surat perintah penangkapan atas diriku karena tidak datang menghadiri panggilan beberapa waktu yang lalu ?”, pertanyaan itu langsung menghantui diriku. ”Tahan dulu mereka dibawah …..aku akan turun sebentar lagi…!”, kataku dengan senyum ketabahan. ” Tapi …pak ? ”, dengan gugup stafku berkata sambil memandangiku tak percaya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil padanya seakan mengatakan untuk melakukan sesuai perintahku. Namun sayang perbuatanku tak sesuai ucapanku tadi. Kubuka laciku dan kuambil kembali surat wasiatku yang dulu itu dan meletakkannya diatas meja kembali dengan ditindih vas bunga berisikan setangkai bunga mawar putih. Yah….beberapa hari ini aku memang memesan mawar putih itu, seakan tahu bahwa dalam beberapa hari ini aku akan mengakhiri jalan kehidupanku…. menuju kematian yang sesat itu. Mengapa aku memilih jalan itu…… karena bila aku mati maka tiada beban utang yang menjadi tanggung jawab keluargaku karena aku telah tiada dan mereka tidak bisa menuntut keluargaku tapi hanya bisa menuntut perusahaanku, yang tak tersisa apapun lagi selain beberapa asset terakhir dan lagi pula gaji karyawanku sudah kubayar penuh hingga bulan depan. Sama seperti beberapa hari yang lalu, aku menaiki tangga dan tidak menaiki lift karena selain ada penjaga lift yang akan mencegahku juga rawan bila bertemu dengan orang-orang yang akan menangkapku. Tangga demi tangga kulalui dengan tergesa-gesa …kali ini kata lelah telah mati dari kamus tubuhku …..hanya kata ”terus dan terus ” menuju gerbang kematian dari atas sana…..Ya …dari atas atap gedung ini. Sepanjang perjalanku , aku hanya bertemu dengan tukang cat yang menyapaku saat berpapasan dan aku tidak memperdulikan sapaannya itu lalu ia melanjutkan pekerjaannya. Akhirnya sampailah aku diatas atap gedung itu, sama seperti kemaren segera kuraih tangga dan……” Tunggu , nak…!”, terdengar suara yang kukenal, seperti suara pak tua yang bertemu denganku, beberapa hari yang lalu diatap gedung ini. Berhenti aku sejenak lalu ia lanjut berkata, ” Bila engkau melakukan itu berarti sudah tak ada lagi yang peduli padaku didunia ini !”, lontarnya menyentuh hatiku yang paling dalam. Seketika lemaslah diriku dan kaku. Dia menghampiriku dan memeluk diriku. ” Urungkanlah niatmu ….karena masih banyak orang yang masih mencintai dan mengharapkan kehadiranmu didunia ini….termasuk diriku anak muda….!”, katanya lembut dari samping telingaku dan mendekapku dengan erat. Tersentuh hatiku mendengarnya dan aku mengatakan,” Bila aku dipenjara kelak …. maukah engkau mengunjungiku, pak tua…?”, ungkapku penuh harap seperti sebuah perjanjian. Dia melepaskan pelukannya. ” Tentu saja anak muda karena kepedulianmu masih membuatku hidup sampai hari ini”, katanya lembut sekali dan penuh keyakinan. Yah…itulah gayanya yang selalu tersenyum dan penuh keyakinan. ” Baiklah, pak …… aku harap engkau memegang janjimu padaku ….!”, kataku seperti anak-anak yang mengharapkan dipenuhi keinginannya sebagaimana yang telah di janjikan ayahnya. Kembali ia menepuk pundakku dan meninggalkan aku seorang diri yang masih tertunduk malu sekaligus bahagia karena hari inipun aku gagal mengakhiri hidupku dengan sia-sia. Tersadar aku manakala hujan deras tiba-tiba membasahi tubuhku. Berlari aku menuju tangga dan menuruni tangga demi tangga dengan kepasrahan terhadap apapun yang akan terjadi. Kubuka pintu ruanganku dan tampak dua orang Polisi berseragam dan pengacara yang waktu itu. Sungguh berbeda kali ini dia tersenyum padaku, lalu menghampiri diriku. ” Selamat Siang …. Apa khabar, pak !”, kata pengacara itu sambil menjulurkan tangannya dan menyalamiku dengan erat dilanjutka dua orang polisi lainnya. ” Saya sudah tahu maksud kedatangan bapak……saya siap ditangkap hari ini…!”, kataku agak tertahan tapi masih ada cukup ketabahan bagiku. Kedua Polisi itu saling berpandangan kecuali pengacara itu yang langsung tersenyum dengan perkataanku tadi. ” Maaf, pak……saya datang kemari dengan disaksikan pak polisi ini bukan untuk menangkap bapak…..tapi ingin menyampaikan sebuah surat dari klien saya kepada bapak…..Klien saya adalah pemilik gedung ini dan beberapa perusahaan termasuk perusahaan yang pernah terlibat piutang dengan bapak…….namun kedatangan saya bukan untuk menagih piutang tersebut tetapi untuk membacakan surat wasiat beliau kepada bapak…….Beliau telah ’berpulang’ beberapa hari yang lalu akibat sakit keras karena lanjut usia…..!”, kata pengacara itu panjang lebar. Aneh pikirku scenario apa lagi ini. Belum aku menanyakan lebih lanjut lagi , pengacara itu berkata, ” Baiklah saya akan membacakan wasiat beliau………!”. Dalam surat wasiat yang dibacakan pengacara berbunyi :&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;” Anak muda……..engkau yang telah menyadarkan aku tentang arti sebuah kepedulian…..yang sangat berarti bagiku…..Engkau menyadarkan aku bahwa masih ada orang yang masih menyayangi diriku…yah…walaupun itu hanya dirimu seorang…..keluargaku telah tiada mendahului diriku akibat kecelakaan pesawat terbang beberapa tahun yang lalu. Sahabatku ….. satu persatu meninggalkan aku karena usia lanjutnya…..dan saat itu aku sudah tak punya siapa-siapa yang masih peduli dan menyayangiku lagi……engkau telah menyelamatkan aku dari kematian yang sangat dibenci Tuhan dari atas atap itu……Tiada yang lebih menyayangi diriku selain dirimu anak muda…..sayang aku tak sempat menanyakan namamu…..tapi aku masih sempat mengenal ciri-cirimu hingga pengacaraku memperlihatkan fotomu padaku. Mungkin aku tak sempat bertemu denganmu, sesuai dengan janjiku keesok harinya saat setelah pertemuan pertama kita, namun aku yakin…..rasa peduli dan sayangmu telah datang dan hadir dihatiku. Terimakasih anak muda……oleh karena itu tiada hadiah yang mampu kuberikan atas apa yang telah engkau berikan padaku, namun kuharap hadiah kecil ini dapat menjadi kenangan bagi ku wahai anak muda……hadiah itu adalah kuserahkan seluruh hartaku padamu semoga engkau dapat menjaganya seperti kepedulianmu padaku dan jangan lupa engkau mendoakanku dan membuat perbuatan yang berpahala bagiku karena aku masih merasa kurang membawa bekal untuk menghadap Yang Maha Kuasa diatas sana. Mungkin suatu saat nanti kita akan berjumpa kelak bila Tuhan memberikan kesempatan itu. Wassalam.”&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;lalu pengacara itu berkata, ” Mengingat seluruh asset perusahaan beliau sudah menjadi milik bapak maka tuntutan perusahaan beliau kepada bapak …otomatis gugur dan tidak berlaku lagi”. Masih berdiri tak percaya lalu kugigit lenganku….sakit campur asin karena keringat masih membasahi tubuhku…..aku tidak bermimpi hari ini. Ternyata Tuhan telah mendengarkan doaku selama ini. Amien Ya Allah….langsung tubuhku sujud mengucap syukur, lalu aku berdiri dan mengatakan sesuatu pada pengacara itu,” Dimana kuburan beliau…….tunjukkan padaku karena aku akan mengucapkan maaf padanya karena tidak hadir disaat terakhir dirinya. Singkat cerita sampailah kami kekuburan beliau…..kuburan keluarga yang megah dan tampak beberapa deret kuburan lain dalam satu areal, dan satu kuburan lainnya yang ukuran dan mewahnya dengan kuburan bapak itu. Ya….itu adalah kuburan istrinya dan deretan lainnya adalah kuburan anak anaknya karena tanggal kematiannya sama semua sesuai dengan surat wasiat tersebut berarti meninggal pada waktu bersamaan yaitu meninggal akibat pesawat yang jatuh. Kupegang nisan yang bertulis nama bapak tua itu,” Pak, terimakasih …… dan Tuhan telah mendengarkan doa bapak untuk bertemu dengan saya tadi siang. Mungkin Tuhan sengaja mengirim bapak untuk mencegah saya untuk bunuh diri hari ini. Saya akan menjaga semua amanat bapak dan melaksanakan semua yang bapak minta dari saya…..termasuk kepedulian dan kasih sayang saya sebagai anak kepada bapaknya. Semoga Tuhan meringankan jalan bapak saat menghadap-Nya’’, lalu kami berdoa dan meninggalkan tempat itu dan hingga hari ini aku setiap hari selalu kekuburannya dan berdoa untuknya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yah…..waktu cepat berlalu dan hari ini, disaat azan magrib ini, dikala senja telah meredup, aku berdiri memandangi nisan yang berisi pesan itu. Ya ….pesan yang kutulis sebagai kenangan saat aku bertemu dengan Bapak tua yang telah kuanggap sebagai ayahku itu dan semoga bila rohnya hadir maka ia akan melihat nisan itu sebagai pesan untuk semua orang yang gagal dan menyampaikan bahwa masih banyak orang yang mencintai dia yang ingin mengakhiri hidupnya secara sesat. Tahukah anda apa tulisannya ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Saya tahu untuk apa anda datang kemari hari ini, namun bila anda mau menyisihkan sedikit waktu saja……bacalah nisan ini karena saya rasa tidak akan mengurangi waktu anda untuk terjun dari tepi atap gedung ini. Jangan takut ….. Saya tidak akan menanyakan keimanan anda, karena bila anda masih punya iman, tentu anda tidak akan datang kemari ! Jawablah langsung dari hati anda yang paling dalam !&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah siapkah anda untuk mati hari ini ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudahkah anda menulis surat sebagai pesan terakhir anda ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudahkah anda menyampaikan salam perpisahan dengan keluarga anda ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudahkah anda menyampaikan salam perpisahan dengan sahabat anda ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudahkah anda menyampaikan salam perpisahan dengan rekan – rekan sekitar anda ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila anda belum melakukannya….. pulanglah dulu dan datanglah dilain kesempatan, namun bila anda sudah anda lakukannya maka lihatlah ke belakang anda ! adakah orang disana ? bila tidak berarti tiada yang dapat menolong anda….. kecuali anda mau melanjutkan membaca pesan ini ! sekali lagi saya sampaikan , saya rasa anda masih punya sedikit waktu lagi sebelum mengakhiri kehidupan anda.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seberapa berat bebankah masalah kehidupan anda ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bandingkan kehidupan anda dengan yang lain ! Bandingkan dengan seorang yang pekerja yang pemecah batu kerikil di kaki cadas gunung yang curam ! yang setiap harinya maut siap untuk menjemputnya.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila anda tidak tahu mengenai mereka maka datangilah mereka namun bila anda tahu……mana yang lebih baik antara anda dengan mereka ? atau mungkin………………..&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bandingkan diri anda lagi dengan anak yang ayah dan ibunya telah tiada ! bagaimana dengan anda, manakah yg lebih baik nasibnya dari pada anda ?&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila nasib anda lebih baik dibanding mereka …..pulanglah dan berusahalah untuk jauh lebih baik dari pada hari ini……………………………………………………………………………………&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;namun bila tidak …….saya berpesan, sebelum anda terjun disisi pinggir atap gedung ini, lihatlah tulisan ditiap jenjang anak tangganya karena anda akan menunduk menuju jalan akhir kehidupan anda diujung atap itu………………………..………………………………………….&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak tangga pertama……….&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;’’Anakku……….. ayah dan ibu telah malu melahirkanmu namun apapun itu engkau adalah anak yang kusayangi hingga ujung kematian merenggut kehidupanmu’’&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak tangga kedua………….&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;’’Wahai kekasih pendamping hidupku………aku malu mendengar kematianmu hari ini namun apapun itu engkau adalah yang paling kucintai hingga akhir hayatmu dan wajahmu tetap terlukis indah dihatiku’’&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak tangga ketiga………….&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;’’Wahai ayahku atau ibuku………anakmu malu mendengar kematianmu yang memilukan hatiku, namun apapun itu ….engkau tetap pujaan hatiku yang telah melahirkan aku, Hmm…..tidakkah engkau ingin melihat anakmu tersenyum manis atau engkau tak sempat melihat kami menangis ? ’’&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak tangga terakhir ……….&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ucapkan selamat tinggal pada dunia……karena neraka akan menyambutmu…. bersama tawa setan yang bergembira dibawah sana………………………………….&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Itulah tulisan yang kuukir dengan jelas sebagai kenanganku dengan bapak tua itu. Hingga hari ini aku tak tahu…… berapa orang yang telah sampai ……dan di posisi mana terakhir dia untuk membatalkan niatnya. Namun yang kutahu tak ada seorangpun yang berakhir dibawah sana lagi hingga saat ini……..yah….di saat gedung ini telah menjadi milikku kini…….masihkah anda berputus asa ? ……….bila masih……..berarti andalah yang akan menjadi orang pertama yang mengakhiri hidup anda…. menaiki atap gedung ini dan berakhir hingga dibawah sana….. dalam pengetahuan saya sejak hari batu nisan pesan ini ditulis, dan bila tidak…..tersenyumlah bahwa anda tidak sendiri dan masih ada orang yang disekitar anda….. yang selalu peduli , selalu mencintai dan menyayangi anda…..baik yang anda sadari ataupun yang tidak anda sadari.................................................................................&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 08:58:27 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Ikhlas....</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/ikhlas-</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;Ketika aku menonton sebuah acara di TV yang berjudul ” Toloong …”, sejenak aku berpikir, mengapa tayangan ini hanya menampilkan suatu situasi yang mungkin biasa bagi kita ? namun sadarkah anda bahwa ada maksud yang tersembunyi, diluar dari rasa tolong menolong yang tinggi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika seorang anak perempuan membawa majalah yang terbakar ujungnya dan ia menawarkan harga yang mahal dari suatu benda, yang mungkin sudah tidak berguna lagi bagi siapapun jua, berkeliling dan menawarkan ”hanya” pada mereka yang mungkin layak untuk ditolong juga, yang mungkin bila orang itu membantu bocah tersebut maka hilanglah pendapatannya dalam satu hari (bagi yang membeli majalah itu) , yang berharga Rp. 30.000,-. Dengan alasan untuk membeli buku sekolah ( hmm…..cukup menimbulkan suatu simpati yang mendalam ) dengan harapan yang sangat besar untuk ditolong tercermin dari mukanya yang memelas dan ucapan yang dapat meruntuhkan hati nurani ( bagi yang memiliki hati nurani tentunya ). Sekian puluh orang ia menawarkan majalah itu dengan gaya yang tak jauh berbeda pada sepanjang jalan yang menampilkan deru perekonomian yang selalu bergulat dengan persaingan yang keras. Hingga pada suatu saat seorang penjual jamu membeli buku tersebut karena rasa kasihannya dengan bocah nan malang itu. Dan akhirnya ia mendapatkan harga yang pantas dari Rasa Simpatinya, yang membantu sesamanya, yang jauh membutuhkan pertolongan tetapi mungkin kita dapat melihat, bahwa penjual jamu itu sendiri pun, juga patut diberikan pertolongan oleh orang lain saat itu, karena ia bekerja demi kehidupan keluarganya dengan kemampuan yang sangat dan sangat terbatas.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bukan hiburan semata bagiku menyaksikan itu semua akan tetapi sebuah nilai rasa KEIKHLASAN membantu sesama yang jauh mengalami kesusahan. Ketika pertama menyaksikan acara itu, aku heran mengapa tidak ditawarkan pada orang yang dinilai mampu untuk membantu tetapi justru pada orang yang mungkin juga layak di bantu oleh orang lain. Mungkin bila itu ditawarkan pada yang mampu ada dua kemungkinan : pertama orang mampu itu mungkin akan mengusirnya ( hal ini sudah hal maklum untuk perkotaan ) dan kedua, orang mampu tersebut akan membantu tanpa ada rasa pengorbanan karena nilai yang kecil bagi dirinya ( terkadang dengan maksud malas untuk diganggu lebih lama lagi bagi orang yang butuh pertolongan itu ).&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hm….akhirnya aku menemukan suatu jawaban yang sangat bernilai bahwa RASA IKHLAS AKAN BERNILAI BILA SESEORANG MAU MEMBANTU ORANG LAIN MESKIPUN DIRINYA DIANGGAP JAUH DARI DIKATAKAN MAMPU UNTUK MEMBANTU SEPENUHNYA. Sesuatu yang memiliki rasa pengorbanan ….. rasa senasip sepenanggungan…..dan rasa saling membutuhkan. Luar biasa…………………….. Pernahkah anda merasakan seperti itu ? Bila belum …………… inilah saatnya bagi anda, terpanggil untuk mengulurkan tangan anda dengan rasa IKHLAS itu.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 08:58:42 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Ibu dalam Doa Anaknya</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/ibu-dalam-doa-anaknya</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;Ketika nabi muhammad ditanya seorang sahabat tentang siapakah orang yang harus didoakan lebih dahulu , ia menjawab : ''ibumu, ibumu dan ibumu kemudian baru ayahmu''. Mungkin anda akan berpikir bahwa betapa besarnya kemuliaan yang didapatkan oleh seorang ibu. Namun sebenarnya ada makna yang tersirat, sangat mendalam bagi kita.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibu adalah yang melahirkan, menyusui dan membesarkan, itulah tiga peran penting ketika ia berbuat untuk anaknya. Bagaimana dengan ayah ? Ia hanya membesarkan kita , makanya ayah hanya mendapatkan sepertiga kasih sayang anaknya, bila dibandingkan dengan ibu. Mungkin ketika kita mendengar banyak anak yang membuat derita bagi ibunya, melukai ibunya bahkan membunuh ibunya, itu sudah biasa kita saksikan. Namun seiring zaman timbul sesuatu yang berbeda, ketika ibu tidak lagi disayangi atau dikenali oleh anaknya sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Marilah kita mengkoreksi diri. Ibu-ibu zaman sekarang jauh lebih sibuk daripada ayahnya. Ibu-ibu zaman sekarang suka arisan dan kumpul sana dan sini sehingga meninggalkan anaknya. Ibu-ibu zaman sekarang lebih suka memeras keringat dibanding memeras susu buat putra putrinya. Oh.....ibu mengapa engkau lupa, bahwa ada tiga kemuliaan dalam doa kami itu. Wahai ibuku , tidakkah engkau ingin merasakan seperti yang dirasakan ibu - ibu zaman dahulu, yang meninabobokan saatku tidur, yang terbangun dan mendekatiku manakala rasa takut menghampiriku, yang selalu memelukku saat sedih menyelimuti perasaanku, yang selalu tersenyum walau raut lelah dan marah menghiasi wajahmu. Oh ibuku......kembalilah padaku , pada anakmu yang merindukan keutuhan cinta dan kasih sayangmu, buat aku mengenali dirimu, buat aku mencintaimu , buat aku memberikan kasih dan sayangku padamu, seperti doa tiga kemuliaan yang kami panjatkan untukmu, ibu , ibu dan ibu...................&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 08:59:00 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Cermin Diri</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/cermin-diri</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;Sepanjang perjalanan perenunganku , aku menemukan suatu yang abstrak namun begitu nyata didepan mata. Mungkin anda sudah lama menyadari hal ini atau mungkin baru menyadari hal itu setelah membaca notes ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tahukah anda bahwa didalam diri anda, ada yang bernama “ CERMIN DIRI ”. Mungkin anda akan mengerutkan kening dan berkata dalam hati bahwa itu tidak mungkin. Namun saya akan berusaha untuk membantu anda, untuk menghadirkannya dalam diri anda walaupun hanya lewat tulisan ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cermin diri adalah benda abstrak dalam pikiran kita , hasil analisa dan bukan hasil dari hati nurani manusia. Ketika seseorang merasa dirinya di bohongi oleh orang lain maka itu adalah cerminan dari dirinya yang mungkin juga suka membohongi orang lain. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya di perlakukan tidak baik oleh orang lain maka itu adalah cerminan dari dirinya yang mungkin juga suka atau sering memperlakukan orang lain secara tidak baik pula.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nah, bagaimanakah dengan pasangan hidup anda ? pernahkah anda merasakan suatu pemikiran , ( walaupun itu hanya 1 detik saja ) , bahwa pasangan anda suka menipu anda ? mengkhianati anda ? atau bahkan berselingkuh dari anda ? cemburukah anda ? cemburukah pasangan anda ? Hmm……saya yakin anda dalam detik ini anda akan tenggelam pada ingatan anda , mengingat tentang sesuatu hal, sesuatu yang mungkin menjadi refferensi bagi anda tentang si ”DIA” atau siapapun itu.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;( saya memberikan waktu 1 menit untuk anda, menutup mata anda dan dengarkan analisa anda atas referensi terhadap prilaku si DIA atau siapapun yang ingin anda ingat , setelah itu buka mata anda dan lanjutkan membaca paragraph selanjutnya. )&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila anda menemukan bahwa sesuatu refferensi dalam pikiran anda, tentang prilaku si DIA atau siapapun dalam ingatan anda itu , mirip dengan prilaku anda maka itulah Cermin diri anda , mengapa hal itu bisa terjadi ? karena referensi itu hasil analisa prilaku anda dengan dirinya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya tidak mengatakan ini seratus persen benar namun ini hanyalah salah satu cara untuk menyadarkan anda bahwa apa yang anda perbuat dan apa yang telah ia perbuat dalam pikiran anda merupakan cerminan dari diri anda sendiri.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya bantu dengan contoh :&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seandainya anda menemukan bahwa pasangan anda tidak cemburu terhadap anda , maka anda akan merasa pasangan anda tersebut tidak sayang dengan anda atau mungkin pasangan anda itu berselingkuh dari anda. ( itu dalam pikiran anda dan syukur bila tidak demikian dalam pikiran anda ).&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila pikiran itu ada segeralah gunakan cermin diri dan analisa mungkinkah anda berbuat yang sama dengan dugaan anda terhadap pasangan anda, walaupun ukurannya hanya sebutir padi dalam pikiran anda.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kenapa hal ini bisa terjadi ? karena dalam pikiran anda adalah &quot; seandainya saya jadi dia maka saya........&quot; , dan itulah cermin diri anda. Namun bila tidak ada dalam pikiran anda tentang dugaan itu maka diri anda bukanlah bayangan yang ada dalam pikiran anda itu. ( dari prilaku anda yang terdahulu atau mungkin yang sekarang )&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mungkin anda sering mendengar , ” Positif thinking aja dech !”, maka itu bukan menyelesaikan masalah anda tapi justru menambah beban pikiran anda.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;” Jadi harus bagaimana dong ? ”, saya yakin itu dalam pikiran anda saat ini. Saya akan berusaha membantu anda , bila anda membuka pintu pikiran anda untuk menerima saran saya , atau hentikan segera membaca lanjutan tulisan ini, bila anda tidak memiliki kepercayaan kepada saya :&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertama buatlah diri anda untuk jujur walaupun pasangan anda tidak berada disamping anda , tampilkan pasangan anda dengan bangga bila ada orang menanyakan siapa pasangan anda itu.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua buatlah diri anda tidak berbuat prilaku yang negative dengan berbohong terhadap pasangan anda apalagi berbohong di “ belakang” dia , walaupun bentuknya hanya “sebutir padi saja “ . Karena diri anda sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketiga jangan memulai atau mencoba sesuatu yang akan menimbulkan prilaku negative terhadap pasangan anda ( di belakang dia ) walaupun hanya Teman Tapi Mesra. ( kayak lagu aja : p )&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keempat , jangan dengar apa kata tetangga sebelum anda membuktikan secara nyata, lebih baik anda diam , menyelidiki hal tersebut dan tunggu saatnya tiba, namun bila anda dapat mengetahui perihal tersebut dengan segera, tentang kebenaran itu , maka coba hentikan dia secepatnya sebelum dia berbuat lebih jauh.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kelima, berikan maaf bila ia berbuat salah dengan anda , karena mungkin bila anda berkaca , belum tentu anda tidak pernah berbuat salah dengan dia , mungkin dia lupa atau belum mengetahui kesalahan anda itu.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi apabila anda menemukan bahwa pasangan anda tidak cemburu terhadap anda itu bukan berarti pasangan anda itu tidak peduli ( cuek istilah kerennya ) atau tidak sayang dengan anda atau mungkin anda beranggapan bahwa pasangan anda itu berselingkuh dari anda.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertama, Mungkin itu jawaban dari cerminan dari diri anda sendiri.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua, Mungkin pasangan anda tidak melakukan perilaku negatif itu, karena pasangan anda tidak mendapatkan cermin diri yang negatif dari prilaku dirinya. Sehingga pasangan anda tidak akan merasa cemburu dengan anda. Berarti pasangan anda tidak memiliki referensi prilaku negatif bagi cerminan dirinya apalagi terhadap anda.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun cobalah mendudukkan masalah dengan benar dan cobalah pahami bahwa pasangan anda itu adalah orang yang baik dan setia. Namun bila ada gejala lain , selidikilah dengan benar dan jangan memutuskan sesuatu itu dengan tergesa gesa apalagi tanpa fakta yang tepat pula.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini hanyalah salah satu contoh bagi anda , mungkin anda bisa menggunakan ” cermin diri ” dengan hal hal lain menyangkut diri anda dan orang – orang di lingkungan sekitar anda. &quot; Bijaksanalah pada semuanya karena semua belum tentu seperti cerminan diri anda, yang datang dari dalam pikiran anda&quot;.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;PEACE.......KEEP IT IN YOUR HEART&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 08:59:38 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Keindahan Dimata Kita.......</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/keindahan-dimata-kita-oct-31-2010-8-34-32-am-32</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;“ Wah gunung itu sangat indah ya yang ….”, bibir mungil gadis itu menggambarkan keindahan pemandangan alam pegunungan yang terhampar luas dihadapannya, sambil bergelayutan dibahu pasangan kekasihnya.&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hmm……tahukah dinda bahwa gunung itu sebenarnya tak seindah mata kita memandang ? “, kata kekasih pria gadis itu dengan seksama.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tertegun sesaat gadis itu, “ Kamu kok ngga romantis sih, yang…!” , protes lembut dari gadis itu dengan nada manja.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kekasih prianya tersenyum, lalu memandang wajah kekasihnya dengan tatapan lembut.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Tahukah dinda….ketika kita mendekati gunung itu … maka semakin nyatalah bahwa gunung itu tidak seperti saat ketika kita….. berdiri disini …..!” ,kata kekasih prianya dengan lembut. Kemudian ia melanjutkan , “ coba liat pakai teropong ini ….” , kekasih prianya mendekatkan sebuah teropong di mata gadis itu.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hening sesaat manakala gadis itu melihat pemandangan sekelilingnya dengan teropong itu. “ iya kamu benar , yang …… dikaki bukit itu begitu terjal …. Semakin ke atas semakin terjal dan curam…..”, kata gadis itu serius. “ apalagi yang kamu lihat ? …” , kekasih prianya bertanya pada gadis itu. “ ngga begitu jelas sih …. Hmmm….Ada orang yang mendaki di kaki gunung itu lho …” teriakan kecil gadis itu pada kekasih prianya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kekasih prianya berkata “ Tahukah adinda ….. yang dinda lihat itu hanya sebagian kecil yang mungkin dinda hadapi, bila dinda mendekati dan mendaki gunung itu “. “ Masih banyak yang tak dapat kita tebak disana , mungkin saja ada hewan buas dan berbisa, mungkin saja kita bisa terpeleset dan jatuh … atau kita tersesat …. semua itu….. tidak menutupi terhadap berbagai macam – macam kemungkinan…!”.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Ternyata demikian ya , sayang ……. Mungkin tidak semua orang bisa mendakinya ya , sayang….”, gadis itu berbicara lirih.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kekasihnya lalu tersenyum, “ Tahukah dinda ….. pada dasarnya semua orang mampu untuk mendakinya ….. hanya tinggal dirinya saja ….apakah ia berniat atau tidak ….. yah….tentu saja semua itu tak lepas dari takdir Allah … yang mengizinkan diri manusia itu untuk dapat mencapai puncak itu….!“.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hening sesaat … gadis itu hanya terdiam saat kekasih prianya menjelaskan hal itu padanya. Lalu kekasih prianya melanjutkan pembicaraannya , “ Dinda , mengertikah kamu …. Apa yang kumaksud dari semua penjelasanku tadi ? “ , Tanya pria itu pada gadis itu. Gadis itu memandangi wajah kekasih prianya dengan seksama sambil mencoba mencari maksud tersembunyi dari pembicaraan kekasihnya itu, lalu gadis itu menggeleng kecil lalu tersenyum malu.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ itulah pernikahan …..” , jawab pria itu diringi dengan senyum manisnya. Kontan gadis itu mengkerutkan kening sebagai tanda tak mengerti dengan ucapan pria itu.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Ya ….. bila sepasang kekasih yang belum menikah atau lagi berpacaran akan merasakan hal yang sama saat melihat gunung itu dari kejauhan……begitu indah dan seakan-akan menggambarkan sebuah harapan yang indah dimata mereka….!”.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Namun manakala mereka mulai mendekati gunung itu maka mereka akan mulai gamang dan cemas ….. apakah mereka mampu untuk mendaki menuju puncak harapan itu !”.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Gunung yang tadi indah ….. kini telah berubah menjadi bebatuan yang terjal dan curam dengan segala macam ancaman……baik hewan buas maupun yang berbisa dan sebagainya……..itulah awal dari suatu pernikahan, adinda ”.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kata – kata kekasih pria gadis itu sungguh mengena dihati gadis itu, yang mulai mengerti maksud dari pembicaraan sebelumnya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Sanggupkah kita mendaki puncak harapan itu sayang ? “ ,Tanya gadis itu penuh keraguan.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Takdir Allah memang telah tertulis, adindaku ……. Namun Iapun mengatakan takkan mengubah nasip manusia kecuali manusia itu mau berusaha dan berdoa pada-Nya…….. itu keyakinan pertama saat kita akan memulai semuanya , sayangku !”&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ …. Lalu itulah maksud mengapa manusia tidak dapat mendaki puncak harapan itu seorang diri, karena ia membutuhkan teman dalam hidupnya …… bergandengan tangan , saling menjaga, saling mengingatkan, saling memperhatikan, saling memberi semangat, saling menghibur …… intinya adalah saling berbagi rasa dalam kebersamaan , sayangku !” , kata kekasih prianya meyakinkan gadis itu dan memandangi mata gadis itu dalam-dalam.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Gadis itu meneteskan air mata ….. bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan dan mengucapkan syukur pada Allah , “ Terimakasih Ya Allah ….. Engkau telah menciptakan pria yang terbaik untukku …….. bersamaku kelak….. menjalani hidup menuju puncak harapan yang sudah didepan mata …………!”&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 09:00:21 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Cinta dan Logika</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/cinta-dan-logika</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; color=&quot;#333333&quot; size=&quot;3&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px;&quot;&gt;&lt;font class=&quot;Apple-style-span&quot; size=&quot;4&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 14px;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; &quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Apa yang kukisah ini, akan bercerita tentang cinta dan logika. Mungkin kita beranggapan bahwa cinta dan logika takkan pernah sejalan dan bahkan ada yang mengatakan “ cinta tak perlu logika “, namun benarkah hal itu ? bacalah cerpen ini , bila anda memahaminya dengan baik maka anda akan mengerti apa itu cinta dan apa itu logika……………………&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Gempa Tsunami Aceh, lautan bergejolak, bumi berguncang, seakan menunjukkan kekuatannya kepada manusia yang tak berdaya. Air pasang menyapu pantai , menggusur dusun nelayan ditepi pantai, menghempas dengan kerasnya, menghanyutkan semua yang dilaluinya tanpa terkecuali. Ribuan orang berteriak minta tolong bahkan mengangungkan nama-Nya. Namun takdir telah tertulis, menundukkan manusia akan kekuasan-Nya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;“ Syarifah….syarifah..!! “ , Hidayat berteriak memanggil istrinya yang lepas dari genggamannya. Air begitu deras, mengalahkan tenaga manusia yang tak kuasa dengan kekuatan alam yang begitu perkasa. “ Abang…..abang…..!! “ , Suara Syarifah yang terdengar jauh , sayup-sayup diantara suara gemuruh air yang terus menyusuri dan seakan tak memperdulikan apa yang ada didepannya. Hidayat terus berpelukan pada sebatang pohon kelapa, mulutnya tak henti mengucapkan doa pada-Nya, memohon ampun dan pertolongan dari Sang Pencipta alam semesta.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Air surut, dengan sisa tenaga Hidayat mencoba untuk mencari istrinya. Namun sia-sia , sepanjang perjalanannya, yang ada hanya puing-piung rumah kayu yang berserakan. Semua rata, tak ada satu rumahpun yang berdiri tegak. Hidayat hanya dapat terduduk lemas, matanya bengkak akibat tangis yang tak kunjung henti , pikirannya berkecamuk , bimbang dan takut, dikanan kirinya hanya mayat dan mayat dengan berbagai rupa dengan meninggalkan bekas kedasyatan kekuatan alam , yang tanpa belas kasihan. Ya , tsunami telah memisah mereka , memisahkan suami dengan istri , ayah ibu dengan anaknya, adik dengan kakaknya, saudara dengan saudaranya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hari demi hari , Hidayat tak pernah menyerah , dia terus mencari Syarifah istrinya. Banyak orang menasehatinya, agar ia melupakan Syarifah karena sudah berbulan-bulan tiada khabar dari Syarifah istrinya. Tapi ia tidak pernah menyerah , hampir rata diseluruh penampungan ia datangi , foto demi foto jenazah yang terpampang dinding posko demi posko dicermatinya satu persatu. Ia yakin istrinya masih hidup karena ia tidak menemukan foto jenazah istrinya dimanapun. Informasi demi informasi didapatkannya , dengan hanya bermodalkan sebuah foto pernikahan yang lusuh , ia terus mencari dan mencari tiada henti. Ia makan dari penampungan satu ke penampungan lain dan tak peduli akan kesehatannya yang mulai memburuk.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Siang itu dikota Medan , sinar mentari begitu terik. Hidayat hanya terduduk menyaksikan orang yang lalu lalang, disuatu pasar dikota itu. Tiga tahun telah berlalu, namun asanya untuk menemukan istrinya tak kunjung padam dihatinya. Seorang lelaki di salah satu penampungan mengaku pernah melihat istrinya yang dibawa oleh seorang lelaki yang katanya ingin pindah ke Medan. Itulah sebabnya mengapa ia ada dikota ini. Dari hari kehari ia berpindah hidup dari satu mesjid ke mesjid lain, kerja seadanya, hanya untuk makan menyambung hidup. Hingga suatu saat matanya seakan berhalusinasi melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Syarifah istrinya. “ Syarifah…” gumamnya lalu menggosokkan matanya berkali. “ Ya tak salah lagi itu Syarifah..”, pikirnya. Lalu perlahan ia mendekati wanita yang sedang menawar baju anak-anak disalah satu lapak kaki lima. “ Maaf bu….apakah nama ibu Syarifah..?? “ tanya hidayat menahan keharuannya. Wanita itu hanya terdiam sesaat lalu berkata , “ Bukan … nama saya fatimah, pak…maaf apa bapak menyenal saya ?? “. Keningnya terlihat mengkerut , pandangannya begitu dalam dengan Hidayat, seakan nalurinya merasakan ada sebuah ikatan dimasa lalu. “ oh maaf , kalau boleh saya tahu , anda berasal dari mana ? “ tanya Hidayat ingin memperdalam keyakinannya walaupun ia ragu dalam hatinya. “ saya dari Aceh, selepas tsunami saya beserta suami tinggal di sini..! “ , “ tapi saya tidak ingat siapa saja keluarga saya disana , bahkan ingatan masa kecilpun saya tak ingat….!”, “ apakah anda mengenal saya dan keluarga saya ?? “ tanya wanita itu yang seakan-akan juga ingin mengetahui masa lalunya, maklum sudah lebih dari tiga tahun ia tidak pernah kembali ke Aceh. “ Hmmm … maukah anda melihat foto ini ? “ , tanya Hidayat sambil memperlihatkan sebuah foto pernikahan yang mulai mengabur. Wanita itu mengambilnya lalu memperhatikan foto itu dengan seksama, lalu ……. Wanita itu langsung hilang kesadaran dan jatuh pingsan. Hidayat kaget dan segera memegang wanita itu agar tidak terjerembab ke tanah, lalu dibantu oleh wanita penjual baju kaki lima itu , hidayat berusaha menyadarkannya sambil mengipas-ngipas muka Syarifah yang telah berganti nama menjadi Fatimah. Tak lama kemudian Syarifah mulai sadar , “ abang….!”, suaranya begitu menyayat hati beriring air mata mengalir dipipinya. Langsung wanita itu memeluk Hidayat. Hidayat tak sanggup menahan air matanya, yah itulah pertemuan setelah tiga tahun lebih berlalu , akhir dari pencarian panjangnya kini telah membuahkan hasil.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hidayat dan Syarifah duduk pada sebuah kedai nasi sederhana, kedua tangan mereka saling menggenggam erat. Hidayat menceritakan perjalan panjangnya, perjalanan pencariannya yang tak mengenal menyerah, dari satu penampungan ke penampungan lain, hingga ia sampai di medan dan menemukan Syarifah yang ia cari selama ini. Syarifah tak kuasa menahan air matanya mendengarkan kisah pencarian suaminya itu. Namun takdir telah berkata lain, walaupun pahit dan mengucurkan air mata, Syarifah menceritakan kisah hidupnya setelah tsunami hingga ia sampai dikota medan ini. Ia memohon ampun dan maaf pada Hidayat karena semua itu diluar dari kemampuan dan kesadarannya, akibat hilang ingatan yang dideritanya setelah tsunami. Syarifah bercerita bagaimana pertemuannya dengan Marwah yang telah membantu mengobatinya, bahkan saat Marwah menikahinya , ia masih tidak ingat siapa dirinya dan masa lalunya , hingga hari ini saat ia melihat foto pernikahan mereka , foto pernikahan Hidayat dan Syarifah, baru ingatan masa lalu Syarifah kembali tergambar olehnya. Hidayat menahan sakit didadanya , begitu perih dirasakannya, seakan punah sudah kebahagiaan yang tadi ia rasakan, saat berjumpa dengan Syarifah. Namun ia berusaha tabah , Hidayat memaklumi keadaan yang menimpa Syarifah saat setelah tsunami hingga hari ini, dengan tersenyum Hidayat berkata , “ Sudahlah Syarifah , Allah telah mengabulkan doaku, agar engkau diberikan keselamatan dari gelombang pasang hari itu, itu sudah lebih cukup bagiku…..”. Syarifah masih tertunduk menciumi tangan Hidayat, dengan tangis yang tak kunjung henti. Orang-orang memperhatikan mereka , tapi kedua insan itu tidak memperdulikan sekelilingnya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;br&gt;“ Pulanglah dulu Syarifah……nanti aku akan ke rumahmu dan aku akan membicarakan hal ini secara baik-baik dengan Marwah , suamimu yang sekarang , tenanglah ….hapuslah airmatamu, mengucap syukurlah pada-Nya karena telah mempertemukan kita kembali …”, Hidayat mengelus rambut Syarifah dan menghiburnya. Syarifah mengangkat kepalanya namun masih tertunduk malu didepan Hidayat. “ Tulislah alamatmu disini….”, Hidayat menyodorkan sebuah buku alamat kecil yang kumal dan sebuah pena. Syarifah menghapus air matanya dan menuliskan alamatnya dibuku kecil itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setahun telah berlalu dari saat perjumpaan Hidayat dan Syarifah di kota medan. Hingga suatu hari ada sepucuk surat dari Jakarta tiba dirumah Syarifah. Di dalam amplop ada amplop lagi, pada lembar pertama Syarifah membaca :&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kepada Yth. Ibu Fatimah / Syarifah&lt;br&gt;Di Tempat&lt;br&gt;assalamualaikum&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bersama surat ini , saya kirimkan surat dari Mas Hidayat. Beliau adalah lelaki yang baik. Saya tinggal bersamanya di salah satu mesjid di Jakarta. Ia telah menceritakan kisah hidupnya pada saya. Hingga akhir hidupnya mas Hidayat berpesan pada saya untuk tidak menghubungi ibu dan memberitahukan keberadaannya , namun hati saya berkata lain. Saya harus menyampaikan surat dari beliau, yang selama ini selalu ada disakunya, yang tak pernah ia kirimkan pada ibu, hingga akhir hayatnya. Kini beliau sudah tenang disisi Yang Maha Kuasa. Saya mohon agar ibu mendoakan beliau. Maaf bila saya sempat membaca surat tersebut. Karena dari membacanya, saya berpikir untuk tetap mengirimkan surat tersebut pada ibu. Wassalam….&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sahabat mas Hidayat&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Lalu dengan tangan gemetar Syarifah membuka amplop kedua tersebut , lalu membacanya dengan berurai air mata :&lt;br&gt;&lt;br&gt;Syarifah buah hatiku,&lt;br&gt;&lt;br&gt;Entah kapan aku mampu untuk mengirimkan surat ini padamu. Betapa aku sangat mencintaimu. Kampung demi kampung telah kutempuh, kota demi kota telah kususuri, demi mencari dirimu cahaya hatiku, namun engkau hilang bagai ditelan bumi. Tiada khabar dan berita, saat itu aku hampir putus asa. Aku bertanya kesana kemari , dengan bermodalkan sebuah foto pernikahan kita, yang berhasil kuselamatkan dari sisa puing-puing rumah kita. Rumah kita yang telah rata diseret gelombang besar sekaligus memisahkan cinta dan cita-cita kita.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setiap hari aku hanya berdoa pada-Nya , semoga engkau diberikan keselamatan dan lindungan-Nya, dan Allah mengabulkan doaku itu sampai aku dapat bertemu dengamu. Syarifah, hari demi hari kesehatanku, tak kunjung membaik. Namun aku tak pernah mengeluh sayangku, karena aku bahagia, setelah perjalanan panjangku akhirnya aku menemukanmu. Tiada lukisan didunia yang mampu melukiskan betapa bahagianya aku saat itu, dan ingin kembali merajut hidup bersamamu. Namun pikiranku berkata lain, engkau telah bahagia bersamanya. Aku melihat engkau duduk dengan seorang anak dipangkuanmu dan dia suamimu ada disampingmu. Aku melihat kalian tertawa gembira melihat tingkah polah anakmu. Yah…tak sanggup hatiku untuk merebut kebahagiaan itu Syarifah, tak sanggup aku untuk membuatmu menderita untuk kedua kalinya. Biarlah cinta ini kusimpan didalam hati dan kubawa pergi selamanya. Selamat berbahagia Syarifah, jangan mencariku karena akupun mungkin akan mencari kebahagiaan lain, bukan karena benci aku tak menepati janjiku untuk bertemu denganmu lagi tapi karena akalku berkata demikian, demi cintaku dan cinta kita………..&lt;br&gt;&lt;br&gt;wassalam&lt;br&gt;Hidayat&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 09:00:40 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Teguran dari Tuhan</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/teguran-dari-tuhan</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Suatu saat aku pernah naik angkot di Medan, tentu saja pada saat itu, aku sedang tidak menggunakan baju dinasku. Lalu pada suatu simpang , seorang Polantas menghentikan angkot tersebut karena melanggar lampu merah, sang supir ditilang oleh polantas tersebut.&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Menyaksikan hal itu, seorang penumpang wanita mengeluh didalam mobil, &quot; Memang polisi ini , udah tau supir itu susah hidupnya , pake ditilang pula, kan kasihan ! &quot;, keluhnya dengan nada emosi.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Aku hanya tersenyum mendengar keluhan penumpang itu dan tergelitik hatiku untuk bertanya, &quot; Kakak&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;tahu, sebenarnya Tuhan sangat sayang pada kakak ? dan Tuhan juga sayang dengan supir itu ! &quot;.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;lalu wanita itu berkata , &quot; kenapa kamu berbicara begitu ? &quot;.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&quot; ya ... supir itu sedang ditegur Tuhan melalui Polisi itu ! dia menerobos lampu merah , bayangkan saja seandainya ada kendaraan dari sisi sebelah yang lampu hijau , mungkin kita akan mengalami tabrakan , dan supir itu mungkin akan menanggung kerugian yang lebih besar, bahkan mungkin diapun dapat kehilangan nyawanya , lalu bagaimana dengan keluarganya ? dan kita penumpang juga mungkin akan terluka, tapi karena Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang maka kita dan supir itu telah mendapatkan sentuhan kasih sayang-Nya , dengan teguran Tuhan melalui polantas itu, yang dapat mencegah supir itu untuk tidak mengulangi kembali kesalahannya, yang mana kesalahan itu dapat mengakibatkan kecelakaan bagi kita. &quot;, kataku panjang lebar.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;wanita itu hanya diam saja, namun terlihat dari air mukanya berubah dan ia tertunduk mendengarkan ceramah tujuh menitku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;lalu aku katakan padanya , &quot; Jangan melihat sesuatu itu hanya dari indera yang kita punya saja , tapi lihatlah hikmah sebenarnya dengan hati, yang merupakan karunia kasih sayang terbesar dari Tuhanmu &quot;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 09:01:17 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>kisah 1001 malam</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/kisah-1001-malam</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;apa yang kutulis ini adalah jawaban dari pertanyaanku yang mengganjal dalam hatiku beberapa hari ini. lalu malam tadi aku bermimpi, dan aku yakin inilah jawaban mimpiku. Secara singkat aku akan bercerita kepada para sahabat sekalian :&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 11px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); &quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Disebuah desa ada seorang saudagar yang bernama ali. Seperti biasa yang telah menjadi kebiasaan didesa tersebut, setelah musim panen usai, tibalah musim dagang, dimana seluruh hasil bumi akan dijual ke ibu kota kerajaan yang cukup jauh dari desa tersebut. Saudagar ali beserta rombongan yang lain memulai perjalanannya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Setelah sepuluh hari berjalan. Mereka melewati sebuah kampung yg sedang dilanda kelaparan, panen mereka gagal untuk tahun ini. Saudagar ali sangat kasihan dengan kampung itu. Ia rela menukarkan barang dagangannya yaitu gandum, dengan beberapa gentong air saja, karena hanya airlah yang dipunyai kampung itu. Sedangkan saudagar lain hanya mencemoohnya. Tapi dengan senyum bahagia Saudagar ali mengikhlaskannya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu rombongan itu kembali melanjutkan perjalannya. Kemudian diperjalanan rombongan itu dihantam badai padang pasir. Selama hampir seminggu mereka berlindung di belakang unta mereka, mulailah mereka kehabisan air. Lalu dengan baik hati saudagar ali memberikan airnya dengan rombongan yg lain.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Setelah seminggu, mereka baru bisa melanjutkan perjalanan kembali. Lalu sampailah mereka pada suatu kampung yang gersang yg sedang kesulitan air. Persediaan air Saudagar ali tinggal sedikit, lalu dengan ikhlasnya saudagar ali memberikan air dan sisa gandum yg dimilikinya dengan kampung itu. Sebagai balasannya, kampung itu memberikan mereka baju usang yang telah lusuh, krn hanya itu yg kampung itu punya.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;“ kami hanya mempunyai dua lembar baju , terimalah baju yg terbaik dari yang kami punya, bagi anda wahai Saudagar yang budiman “, kata kepala suku kampung itu. Saudagar ali menolak dan mengatakan bahwa ia ikhlas membantu kampung itu, tetapi kepala suku kampung itu bersikeras untuk memberikan baju itu padanya. Akhirnya saudagar ali menerima juga dan membawanya juga.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Karena sudah tak mungkin kembali ke desanya sendiri, saudagar ali kembali melanjutkan perjalanan dengan rombongan. Lalu diperjalanan rombongan dagang itu dirampok oleh perampok padang pasir yang terkenal sangat sadis, semua harta mereka dikuras, bahkan sampai pakaian indah yg mereka kenakan, juga disuruh untuk dilepaskan, kecuali beberapa baju lusuh yg dibawa saudagar ali. Setelahnya, perampok itu meninggalkan mereka dlm keadaan telanjang. Saudagar ali lalu memberikan baju bekas itu kepada seluruh rombongan itu. Sungguh ajaib jumlah keseluruhan pakaian sesuai dengan jumlah mereka. Lalu dengan tertatih tatih mereka melanjutkan perjalanannya. dan tak lama kemudian mereka ditangkap oleh sekelompok penjahat padang pasir yg menganggap mereka adalah para budak, maka dengan serta merta mereka dimasukkan dalam kereta kerangkeng budak yg besar lalu dibawalah ke kota untuk dijual.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Sesampai dikota, tiba tiba seorang saudagar dikota itu yang bernama Shah mengenali mereka, karena kedekatan saudagar itu dengan raja maka rombongan itu dibebaskan. Sang raja sangat penasaran dengan teman saudagar shah itu, maka diperintahkanlah saudagar shah untuk menghadapkan rombongan pedagang yg malang itu kepadanya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu setelah seluruh pedagang itu menghadap raja, berceritalah saudagar ali tentang apa yg mereka alami dlm perjalanan mereka. Disaat mendengar kisah kampung yg kelaparan, maka lalu raja itu memerintahkan tentaranya mengirimkan makanan pada kampung itu, dan mengirimkan air untuk kampung yg sedang dilanda kekeringan. Lalu saat mendengar ada perampok dipadang pasir yg merampok rombongan pedagang itu, lalu raja memerintahkan tentaranya untuk mencari perampok itu, namun sungguh tak diduga, perampok itu akan menjual barang rampoknya di ibu kota kerajaan, tentu saja sangat mudah bagi tentara raja menemukan mereka lalu perampok dipenjara dan barang dagangan rombongan itu dikembalikan pada mereka.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Betapa bahagianya rombongan itu, lalu bertanyalah raja pada saudagar itu , '' Sekarang tiada harta yang engkau miliki dan tiada barang dagangan yg dapat engkau jual wahai saudagar ali ? '' tanya raja , lalu sang saudagar itu menjawab , '' Yang mulia , Tuhan itu memberikan apa yang dibutuhkan oleh kita, mungkin kita tidak mengetahui apa apa saja yg kita butuhkan dalam hidup kita dan kadangkala kita merasa pemberian-Nya, terlihat tidak baik bagi kita , namun kita tidak menyadari bahwa Ia Maha Mengetahui apa-apa saja yg kita butuhkan, Ia tidak akan pernah luput memperhatikan kita, selagi kitapun tidak pernah luput untuk memperhatikan makhluk ciptaan-Nya yg lain.''&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu raja itupun tersenyum, '' Sungguh bijak wahai engkau saudagar, darimana engkau mengetahui hal itu ? ''.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu saudagar ali menjelaskan, '' ketika hamba hendak berdagang , hamba bingung akan berdagang apa , lalu hamba memutuskan untuk berdagang gandum, lalu entah mengapa begitu mudahnya bagi hamba untuk mendapatkan gandum yang bagus dengan harga yg sangat murah “.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;lalu saudagar ali melanjutkan , “ Dalam perjalanan, hamba melihat kampung yang sedang dilanda kelaparan, maka terbersit dihati hamba bahwa kemudahan yang saya alami dalam mendapatkan gandum itu juga karena doa mereka yang kelaparan, yang membutuhkan gandum yang saya bawa, maka saya memberikannya pada mereka lalu mereka menukarnya dengan beberapa gentong air ” .&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;“ lalu disaat badai padang pasir menghantam kami, air itulah yang sangat kami butuhkan karena persediaan air rombongan yang lain telah habis, itulah pemberian Tuhan , mungkin dalam pikiran kita, berapalah harga dari segentong air dibanding sekarung gandum, akan tetapi air yg terlihat murah itu adalah yang sangat kami butuhkan saat itu ”.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;“ lalu kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi kami menemukan kampung yang dilanda kekeringan, lalu saya memberikan air dan sisa gandum yang saya punya, lalu mereka membalasnya dengan memberikan baju lusuh, yg bagi mereka adalah yang terbaik dari yang mereka punya”.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;“ Dalam perjalan selanjutnya secara tak terduga ternyata kami dirampok, semuanya dirampas, termasuk baju kami, kecuali baju lusuh pemberian dari kampung itu. Dengan baju itulah kami tidak telanjang walaupun jauh dari keindahan baju kami yang sebelumnya namun itulah pemberian Tuhan yang sangat kami butuhkan saat itu yang tidak dikehendaki oleh perampok itu ”.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Kemudian saudagar ali terdiam sejenak dan melanjutkan kembali perkataannya, “ Pada saat itu, kami hanya bisa berjalan dipadang pasir dengan bertelanjang kaki, hingga akhirnya kami ditangkap dan dikira budak yang dapat dijual ”. “ Sungguh Tuhan Maha besar , seandainya kami tidak ditangkap penjahat itu dan tidak dibawa kemari untuk dijual, maka kami akan mati dipadang pasir yang gersang karena tak mungkin bagi kami untuk berjalan tanpa kendaraan, lalu sesampai di kota ini, lagi – lagi kami terselamatkan oleh Saudagar Shah dan berkat bantuan yang mulia kami dapat bebas dan bahkan barang dagangan kami dapat kembali pada kami dalam keadaan utuh. ”&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Raja hanya manggut manggut mendengar perkataan saudagar ali , lalu ia berkata ” engkau sungguh luar biasa ......... ! ”&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu saudagar ali berkata , ” tiada yang luar biasa dari hamba yang mulia , karena hamba hanya selalu ingat perkataan ayah hamba, mintalah pada Tuhan Yang Maha Mengetahui , tuliskan dalam hatimu apa apa yang engkau inginkan, percayalah......bila Tuhan Menghendakinya maka Ia akan memerintahkan alam semesta jagad raya ini, untuk membantumu untuk mewujudkan keinginanmu, sesuai dengan yang engkau butuhkan. ”&amp;nbsp;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 09:01:22 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Diary Kesetiaan Cinta</title>
            <link>http://ceritamimpiku.yolasite.com/cerpen-indah/diary-kesetiaan-cinta</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Sulit bagiku menerima ini semua. Penyesalan selalu berada diakhir
cerita, ketika semua telah menjadi nyata. Tiada kesempatan bagiku untuk
mengulang kembali apa yang telah terjadi. Semua telah berlalu dan hanya
meninggalkan perih dihati. Mungkin dari cerita ini , aku bisa berbagi
cerita mengenai arti sebuah kesetiaan cinta yang tak bisa dinilai
dengan apapun didunia yang fana ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Aku bukanlah seorang pria yang setia. Aku telah buta akibat sebuah
cita-cita. Cita – cita untuk memiliki apa yang pasangan lain punya,
yaitu Buah cinta kasih , yang akan melengkapi arti dari sebuah
pernikahan. Alhasil pada akhirnya aku menjadi salah satu yang salah
dalam mengartikan makna sebuah cinta. Setelah sekian tahun
perkawinanku, kehadirannya yang dinanti - nanti tak kunjung datang jua.
Ya….Sang buah hati pelengkap hidup kami. Semua jalan telah ditempuh
namun tiada tanda-tanda sekalipun bagi kami untuk segera memilikinya
hingga akhirnya aku mengenal Zahara. Gadis yang telah menggoda hatiku
untuk mewujudkan cita-citaku melalui cinta yang lain selain annisa
istriku. Walaupun berat akhirnya annisa , istriku menyetujuinya
walaupun kutahu hatinya pasti terluka namun bisikan hasrat itu begitu
kuat, menutup mata hatiku sehingga aku menjadi buta dan salah dalam
mengambil arah.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Hari demi hari berlalu, sejak janji kedua dalam hidupku terucap untuk
Zahara, namun hal yang samapun terjadi , semua kandas dan tidak
terwujud secara nyata. Hal ini sangat berat membebani jiwa dan
pikiranku sehingga aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku.
Tiba-tiba kesadaranku berkurang dari hari kehari dan akhirnya akupun
tertidur dan terpenjara dalam alam mimpiku. Setelah itu aku tidak tahu
apa –apa lagi mengenai dunia ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Berbulan-bulan aku terpenjara dalam ketidaksadaranku itu, namun yang ku
tahu setelah hari itu hanyalah suara lembut yang seakan-akan
memanggilku untuk kembali ke alam nyata. Suara yang lembut, tulus dan
mampu menggetarkan alam mimpiku. Suara yang jauh namun begitu dekat
dihatiku, Aku terus berlari mencari dan terus mencari sumber suara itu.
Aku seakan berada dalam sebuah labirin yang sangat luas . Belakangan
setelah aku sadar dari tidur panjangku , Dokter mengatakan bahwa diriku
mengalami koma akibat beban pikiran yang terlalu berat sehingga aku
mengalami gangguan pada system otakku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Ketika aku sadar tiada siapapun disampingku. Namun sungguh menyedihkan
bagiku manakala seorang suster perawat mengatakan padaku bahwa tadi
malam istriku, Annisa telah meninggal dunia saat menungguku dan
menjagaku disini. Suster mengatakan bahwa istriku Annisa, jarang tidur
karena selalu menjagaku setiap hari. Sedangkan ia tahu bahwa dirinya
mengidap kanker hati namun ia tetap setia menjagaku sampai tak ingat
waktu untuk beristirahat sekalipun. Sungguh terharu dan tanpa kusadari
air mataku menetes mendengar cerita suster itu. Suster itu mengatakan
bahwa Istriku Annisa selalu memanggilku dengan bisikan ditelingaku
untuk menyadarkanku dari komaku. Seketika usai mendengar itu, kepalaku
pusing dan langsung tak sadarkan diri lagi.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Seminggu kemudian aku baru sadar kembali dan akan tetapi kali ini ada
Zahara disisiku. Aku berusaha bangkit namun dokter melarangku dan
mengatakan padaku supaya aku menjaga kondisi psykologiku karena bila
aku pingsan lagi dikhawatirkan aku akan menderita amnesia permanen.
Zahara tersenyum padaku , lalu aku bertanya “ Dimana Annisa ? “ dan
Zahara mengatakan dengan lembut , “ Istirahatlah mas, nanti bila
kesehatanmu membaik aku akan menceritakan semuanya…”, sambil
menyelimutiku kembali dan mengelus keningku, namun air mataku tetap
membias dipelupuk mataku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Sebulan kemudian, akhirnya kesehatanku benar-benar pulih. Beberapa hari
lagi Dokter mengizinkanku untuk pulang , namun tetap harus selalu
control setiap minggunya. Saat hari itu tiba Zahara membawaku ke Pusara
Annisa. Aku tertunduk malu didepan Pusaranya dan air mataku menetes
seakan penuh sesal karena tak sempat mengucapkan terimakasih atas
pengorbanan cintanya, betapa hinanya diriku didepan nisannya. Ya hari
ini seorang pria yang tak setia memegang janji cintanya, telah
bersimpuh didepannya yang tak lagi ada didunia ini, yang ada hanya
jasad yang terkubur dibawah taburan bunga melati , tempat
peristirahatan terakhir manusia di dunia yang fana ini.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu Zahara memecah lamunan kesedihanku, “ Mas , sudahlah…. jangan
engkau buat Annisa bersedih di alam sana….. , ini ada surat dari Annisa
untukmu …..dia menitipkan ini sebelum ia berpulang mas….”, Tangan
Zahara menyodorkan sebuah surat beramplop warna putih. Lalu kuraih dan
kubaca dengan tangan gemetar seakan Annisa hadir dihadapanku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Assalamualaikum , Wr , Wb&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Alhamdulillah , kuucapkan syukur hari ini atas karunia Allah untuk
suamiku. Aku yakin saat mas membaca suratku ini , mas sudah dalam
keadaan sehat seperti yang kuimpikan dan kunantikan selama ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Mas Gunawan yang kucintai, mungkin saat mas membaca surat ini aku sudah
mendahuluimu meninggalkan dunia fana ini, namun izinkan terlebih dahulu
aku memohon maaf bila ada kesalahanku sebagai istri dalam pengabdianku
padamu selama ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Mas Gunawan, suamiku, janganlah bersedih apalagi menumpahkan air mataku
dipusaraku kelak. Aku mau mas hadir dipusaraku dan tersenyum padaku ,
supaya aku puas bahwa pengorbananku tidak sia – sia selama ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Mas Gunawan yang sangat kucintai, Aku yakin sekarang Zahara ada
disampingmu, aku telah meminta padanya untuk menjagamu sepanjang
hayatmu kelak. Walaupun diriku bukanlah dirinya namun anggaplah itu
sama. Lanjutkan kehidupan ini dengan berbahagia wahai kekasih hatiku,
sampai saatnya tiba kelak , manakala Allah memberikan batas waktu pada
ciptaan-Nya. Aku kan menantimu kelak di pintu surga untuk bersamamu
kembali dan juga bersama Zahara. Sampai jumpa Suamiku , aku takkan
mengucapkan selamat tinggal padamu karena aku tahu , aku tetap dihatimu.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wassalam&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;ANNISA&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Kucium surat itu, sebagai tanda rinduku pada Annisa , Istriku. Lalu
kuusap nisannya dan kukatakan , ” Annisa ….. maafkan aku ….”, hanya
kata itu yang dapat meluncur dibibirku dan kemudian aku memberikan
senyumku pada pusaranya sesuai amanat suratnya itu. Terdengar nada
panggilan handphone dari dalam tas Zahara, lalu Zahara mengangkatnya. “
Mas ada telepon dari Rumah Sakit katanya ada yang ketinggalan di sana,
kita diminta mengambilnya katanya penting.” Zahara menyadarkan
lamunanku. “ Baiklah , Mari kita kesana …!”, Jawabku. Setelah berdoa
akupun pamit pada pusaranya lalu beranjak meninggalkan komplek kuburan
itu.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Sesampai di Rumah Sakit, kami langsung dihampiri suster yang pernah
menceritakan perihal istriku, Annisa, saatku pertama tersadar dari
komaku dulu. “ Maaf Pak Gunawan , bisa saya bicara empat mata dengan
anda ? “, Tanya suster itu santun. Aku hanya mengangguk dan mengikuti
suster itu keruangannya, hanya berdua dengan suster itu. Ia
mengeluarkan buku dari dalam tasnya , “ Pak Gunawan , saya menemukan
ini dibawah kasur tempat tidur anda”, kata suster itu sambil
menyerahkan buku bersampul biru, mirip notes bentuknya, lalu suster itu
melanjutkan , “ Maaf saya membaca beberapa halamannya, karena saya
tidak tahu siapa yang punya tetapi sepertinya buku itu adalah Diary
milik istri anda, Ibu Annisa”. Tertegun aku sesaat karena belum pernah
selama ini kulihat istriku menulis sesuatu dibuku sejak kami menikah
dulu. Kubuka lembaran pertama :&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Annisa , begitu mereka memanggilku , sebuah nama indah pemberian ibuku
atas kelahiranku. Namun kebahagiaan itu tak sejalan dengan kehidupanku
yang selanjutnya yang penuh akan cobaan sebagai seorang wanita. Wanita
yang menjadi sebagai pintu gerbang kehidupan buah cinta, bagi pasangan
manusia ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Melalui diary ini , aku akan berkeluh kesah mengenai kisah hidupku yang
selalu diombang ambing oleh ganasnya gelombang kehidupan. Kehidupan
yang mungkin tak pernah kubayangkan apalagi kucita-citakan , namun
Tuhan telah menggariskan demikian dan aku sebagai manusia tak berhak
untuk bertanya mengapa , melainkan hanya bersyukur dan yakin bahwa
semua itu ada hikmahnya. Walaupun hikmah itu kita dapatkan manakala
kita telah tiada.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Tahun demi tahun berlalu sudah. Buah cinta yang kami nantikan
kehadirannya tak kunjung datang jua. Lelah kami mencoba, berbagai macam
cara telah kami tempuh namun Tuhan belum juga berkenan memberikannya ,
walaupun hanya lewat tanda – tanda sekalipun. Ya Allah , kukan tetap
sujud pada-Mu, walaupun ujian – Mu ini begitu berat bagiku.
Keikhlasanku kan selalu beriring dengan kesabaranku untuk menjalani
takdir- Mu , Ya Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Betapa sakitnya diriku , manakala berita itu bagai petir mencambuk
nyawaku. Suamiku , yang kucintai …. akhirnya tak mampu untuk sabar dan
mencari jalan lain ke Roma, dan takluk dalam godaan cinta yang lain.
Cinta yang baginya akan membawa angin surga, yang menjanjikan sebuah
jalan untuk melahirkan putra keturunannya. Hingga saat yang kutakutkan
itu terjadi dan aku tak kuasa menolaknya, walaupun harus berurai air
mata , ku ikhlaskan dirimu untuk memaduku dalam pelabuhan cintanya.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Mendadak kepalaku pusing, lalu aku mengatakan pada suster tersebut.”
Kepalaku sakit sekali…Suster, mungkin saya harus menginap lagi hari ini
dirumah sakit ini”. Mendengar keluhanku, Suster itu segera memanggil
dokter. Oleh dokter aku disarankan untuk kembali beristirahat di Rumah
Sakit tersebut. Atas ijin dokter tersebut aku diijinkan untuk kembali
beristirahat dikamarku yang terdahulu, saat aku koma dulu dengan alasan
bahwa kamar itu lebih tenang. Zahara menghampiriku dan aku memintanya
untuk kembali esok hari karena aku ingin istirahat tenang hari ini. Aku
hanya pura-pura tidur saja saat itu , manakala semuanya telah
meninggalkanku kembali kubuka buku Diary miliki Annisa , Istriku.
Kulanjutkan halaman demi halaman :&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Dear Diary……mungkin hari ini dan seterusnya , hanya dirimulah yang akan
mendengarkan curahan hatiku. Tiada yang ku percaya lagi didunia ini
selain engkau ….. Diary dan pena sahabatku, yang setia dan tak pernah
berdusta. Lewat tulisanku dihalamanmu, itulah curahan hatiku yang
takkan terucapkan pada suamiku yang tercinta, yang terkasih , yang
telah mengikat diriku dalam pelabuhan cintanya. Mungkin suatu saat
engkaupun akan bercerita padanya namun kuharap tetaplah setia padaku ,
wahai Diary kesayanganku,&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Suamiku …….banyak yang akan kusampaikan padamu namun tak kuasa bibir
ini untuk mencurahkan kata hatiku padamu. Sehingga aku hanya menuliskan
kata-kata hatiku di Diary ini, karena aku yakin diary ini tidak akan
bersuara seperti bibirku saat ini, biarlah kucurahkan semua di buku ini
agar aku dapat berkeluh kesah tanpa membuat luka dihatimu.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai suamiku yang tercinta……….mungkin tak ada yang mampu kuberikan
padamu. Hidupku ibarat sesuatu yang hampa tanpa buah cinta kasih kita
yang hadir dalam pelukanmu. Namun hanya kesetiaanlah yang mampu
kuberikan padamu hingga maut menjemputku kelak dikemudian hari manakala
saat itu tiba.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai suamiku yang terkasih ……Mungkin sakit ditubuhku ini tak sebanding
dengan sakitnya hatiku ini ketika engkau memberi madu padaku. Mungkin
bila aku tidak mengingat Tuhan…… sudah kulepaskan raga ini
meninggalkanmu , akan tetapi cinta ini begitu buta bagiku. Biarlah
telinga ini mendengar , akan tetapi butakan mataku ntuk melihat dirimu
bersanding dengannya.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai Suamiku kekasih hatiku ...... hari ini sudah ada keikhlasan di
hatiku. Namun kuharap Tuhan masih membutakan mataku melihat dirimu,
bergandengan tangan dengan dirinya. Oh...suamiku mengapa engkau
mengikat erat hatiku seperti mengikat bahtera di pelabuhan cintamu
hingga aku tak mampu untuk melepaskan pautanmu yang begitu kuat dari
diriku. Akan tetapi kumohon tetaplah tersenyum padaku , jangan engkau
menatapku seakan-akan aku tak mampu karena hanya Tuhanlah yang tahu
betapa kuatnya kesetiaan cintaku pada dirimu.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Sebulan telah berlalu, aku terbiasa sudah kini wahai suamiku . Walaupun
luka hatiku tak kan pernah sembuh, namun kini telah mengering seiring
keringnya air mataku, meratapi nasipku yang malang ini. Suamiku tahukah
engkau betapa kuatnya cintaku ? Seandainya engkau dapat menyelami
hatiku maka engkau akan menemukan kekuatan cintaku yang tertanam kuat
di dalam sanubari hatiku yang terdalam. Walaupun pelabuhan cintamu
telah berbagi dengan tambatan bahtera lain, namun bagiku takkan
mengurangi kadar cintaku untuk mengabdi padamu.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai Suamiku, pujaan hatiku ……sudah tiga bulan ini penyakit itu
bersarang ditubuhmu. Dirimu bagai hidup di alam maya dalam pandangan
mataku. Nafas lemahmu seakan enggan untuk menarik udara didalam tabung
penyambung hidupmu. Tapi dihatiku engkau tetap pujaan hatiku , walaupun
hingga waktu menghadirkan malaikat maut ntuk menjemputmu.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai Suamiku, pemilik hatiku ..... Kini aku sendiri mendampingi
dirimu. Bundaku telah meninggalkan dunia fana ini, bahkan ayahkupun
seakan tak ingin berpisah lama dengan bundaku, beliau juga menyusul
mendampingi bundaku disisi pusaranya. Kanda akankah kita bahagia
seperti mereka atau sebaliknya ? Namun yang pasti ku kan tabah
mendampingimu walaupun dirimu hanya terbujur kaku dihadapanku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai Suamiku cahaya cintaku....... Sakit didadaku tak kunjung sembuh
dari hari ke hari. Lemas seketika saat aku mendapatkan berita mengenai
penyakitku ini. Kanker telah menyelimuti hatiku , mungkinkah diriku
akan mendahuluimu atau kita kan bersama menyongsong lorong waktu menuju
pintu akhir kehidupan yang fana ini ? Hmmm.......tidak suamiku biarlah
semua hartaku habis hanya untuk mengobati dirimu, aku akan berkorban
padamu. Warisan orang tuaku hanyalah untukmu , kan kucari dokter yang
terbaik untukmu , kan kucari obat yang termujarab bagimu, aku takkan
pernah menyerah suamiku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai suamiku pendamping hidupku …….. banyak pria yang telah menawarkan
cintanya padaku, namun jiwaku bukanlah milik diriku lagi tapi milik
engkau, suamiku sehingga tak mungkin lagi bagiku untuk berbagi cinta
dengan yg lain, tiada yang mampu untuk membuat diriku berpaling dari
cintaku padamu, namun tak sedetikpun aku ragu tentang kekuatan cinta
kita, walaupun engkau membagi cinta dengan bunga yang lain namun engkau
tetaplah pemilik jiwa dan hatiku, oh.. sayangku.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai Suamiku, cintaku yang abadi ……. betapa bahagianya diriku hari ini
Tuhan telah mengabulkan doaku dalam sembah sujudku pada-Nya. Ku harap
penantian panjang ini akan berakhir dengan senyum diwajahmu. Pupus
sudah kemarau dihatiku …..sadarlah…..sadarlah dari tidur panjangmu aku
kan terjaga menantikan detik detik itu.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wahai suamiku …oh…sayangku…….. bangunlah , waktuku tak panjang ntuk
menantikan kebahagiaan ini. Bukalah matamu ….. dengarkanlah bisikan
lembutku ditelingamu…..bangunlah…..&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;aku
kini telah dikejar waktu , maut sudah mengetuk didepan rumah kita,
menantikanku untuk kembali kepada Tuhan dan takkan kembali di sisi
hadapanmu.&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;wbr&gt;
&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Suamiku……mungkin inilah keluh kesah terakhirku, rangkaian kata yang
akan mengakhiri semua perjalanan hidupku. Aku kan membawa cinta ini ,
menjadi memory yang abadi selamanya dihatiku, sekalipunpun tubuhku
nanti bercampur dengan tanah disamping pusara ayah dan ibuku. Maafkan
aku suamiku bila aku tak mampu memberikan pengabdianku sepenuhnya
untukmu hingga akhir hayatku, namun aku akan bahagia bila engkau terus
melanjutkan hidup didunia ini. Gandenglah tangannya di sisimu……..kini
aku tersenyum bahagia menyaksikannya, tidak seperti dulu saat
keikhlasan belum memeluk hatiku ini. Sayangku…………….”Aku Sangat
Mencintaimu”&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
 &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Kututup Diary itu. Diary yang berisi curahan hati, Annisa, istriku.
Teriris rasanya hatiku usai membaca curahan hatinya yang terekam lembar
demi lembar di diary kesayangannya itu. Hanya penyesalan yang kini
hadir dihadapanku , karena aku telah berdosa menyia-nyiakan cahaya yang
selalu menerangi hidupku, cahaya yang tak pernah lelah menjagaku, tak
pernah mengeluh berkorban untukku. Tak kuasa diriku membendung air mata
ini untuk tumpah membasahi pipiku lagi. Tak ada kata yang mampu
menggambarkan secara rinci betapa perih dan menyesalnya diriku saat
ini. Kucium diary itu dan tanpa sengaja tanganku merasakan seperti ada
kertas yang terselip disampul belakangnya. Ya….itu adalah surat tulisan
tangan dari Annisa, istriku. Tulisannya begitu kabur seperti terkena
tumpahan air namun masih bisa untuk dibaca. Lembar pertama berisikan
surat Annisa yang ditujukan kepadaku yang diberikan Zahara di saat kami
berziarah ke Pusara Annisa. Isinya persis sama dan kini kupahami
mengapa surat itu ada dua, ada perbedaan dengan surat yang sebelumnya
karena surat yang ini begitu banyak tulisan yang kabur, mungkinkah
karena air matanya begitu deras saat menulis surat ini pikirku,
sehingga terlihat kaburlah tulisan dilembaran itu. Oleh karena itu maka
Annisa menyalinnya ulang untuk dikirim padaku. Lalu ku balik kertas itu
sama kaburnya namun ada isi yang berbeda. Isinya tentang surat yang
ditujukan untuk Zahara, kemudian kubaca dengan seksama :&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Assalamualikum  wr.wb&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Sebelumnya aku memohon maaf padamu. Mungkin dirimu tidak berkenan
menerima suratku ini. Namun dengan kerendahan hati aku memohon padamu ,
kembalilah pada suami kita. Tak lama lagi dia akan sadar …… dokter
telah mengatakan bahwa syaraf-syarafnya telah kembali membaik.
Terapinya berhasil, kini tinggal menunggu saat-saat kesadarannya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Zahara , maduku yang baik, jagalah suami kita dengan baik. Berikanlah
kasih dan sayangmu padanya, sesungguhnya dia adalah orang yang lemah
hatinya , jangan biarkan ia memikul sendiri kehidupan ini.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Zahara, mungkin waktuku tak dapat menantikan dirinya, saat ia bangun
dari tidur panjangnya. Hadirlah disini, di Rumah Sakit Harapan Insan,
ia juga menantikan kehadiranmu dalam mimpinya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Zahara, bila Tuhan telah mendahului menjemputku sebelum kebangkitannya
dari tidur panjangnya itu. Aku memohon padamu gantikan aku untuk
mengatakan bahwa “ aku sangat mencintaimu, wahai suamiku “, walaupun
kalimat itu akan terucap dari bibirmu tapi katakanlah dengan lembut dan
penuh cinta kasih dan wakilkan aku untuk menciumi tangannya sepanjang
hidupnya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Zahara kutitipkan padamu sepucuk surat untuk suami kita manakala aku
telah tiada , berikanlah padanya ketika ia sudah benar-benar sembuh dan
sampaikan maafku karena menitipkan surat ini padamu karena aku tak
dapat mendampinginya dan memberikan pengabdianku seumur hidupnya&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Terimakasih Zahara, aku dan dirinya menantikan dirimu untuk hadir disini,  untuk kita bersama lagi.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Wassalam&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;ANNISA&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Termenung aku seketika, Betapa luar biasanya dirinya padaku yang
mengorbankan segalanya untukku. Untuk pria yang selayaknya tak patut
mendapatkan karunia cinta sebesar ini. Aku tertunduk malu pada diriku
sendiri dan hatiku berkata , “ Annisa Istriku……..Aku sangat
mencintaimu…aku takkan melukai cintamu untuk kedua kalinya, cukuplah
sudah semua ini …. mungkin aku hanya ditakdirkan untukmu…wahai Annisa,
Istriku yang tercinta. Kuraih pena disudut meja dan kutulis semua apa
yang telah terjadi tentang hidupku bersamanya di halaman selanjutnya.&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Lalu diakhir paragraph kutuliskan :&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Cinta....Ungkapan hati dalam bentuk untaian mutiara kata. Lama aku
bertanya dihatiku tentang arti sebuah cinta. Arti Cinta bagi seorang
Annisa, &quot; Cinta yg tak terbagi namun sanggup untuk berbagi &quot;. Cinta
yang tak biasa ..... cinta yang tak mengenal lelah dalam
pengorbanannya. Itulah cinta yang sejati dan terukir indah dihati
pemiliknya. Benar sekali itulah cinta istriku yang terkasih , yang
telah mengorbankan segalanya demi diriku, namun tak sempat bagiku untuk
membalas semuanya karena waktu tidak berpihak padaku. Tapi aku yakin
hingga akhir hayatku nanti aku kan selalu menjaga kesetiaan cinta ini.
Annisa, Istriku, aku akan menyonsong lorong waktu itu. Aku melihat
dirimu berdiri didepan pintu rumah kita menyambut kedatanganku. Lalu
kupeluk dirimu dan aku berkata , “ Aku Sangat Mencintaimu………………………………………&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/font&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;span class=&quot;word_break&quot;&gt;&lt;/span&gt;…………………….”&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;font style=&quot;font-size: 14px; &quot;&gt;Zahara menutup buku Diary itu. Gunawan telah meninggal tadi malam. Ia
menderita stroke hebat hingga mengalami pendarahan di otaknya, namun ia
berhasil menyelesaikan tulisannya dibuku Diary itu. Lalu Zahara
menuliskan sebuah judul didepan buku itu “ Diary Kesetiaan Cinta “,
lalu dibawahnya “ Untuk cinta yang abadi selamanya, Annisa dan Gunawan
“ .&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 31 Oct 2010 09:01:36 +0100</pubDate>
        </item>
    </channel>
</rss>
