Bathin yang Lapar dan Dahaga
Diposkan oleh zulanda pada Jumat, Januari 8, 2010 Dalam: CERITA INSPIRASI
Matahari menghilang di ufuk barat, dikala azan magrib berkumandang ,
mengiringi akhir perjalanannya hari ini. Ada yang berbeda dengan hari
–hari yang lalu dibandingkan hari ini bagiku , lalu seulas senyum
bahagia tergambar diwajahku seketika mendengar suara azan itu.
Hmmm….suara azan itu kontan menggiring mataku pada seorang penjual es
buah dipinggir jalan. Ya…. hari ini adalah hari pertama puasa bagi umat
muslim , tak terkecuali juga bagiku.
Usai melepaskan dahaga ragaku, tak lama bathinku pun seakan ingin
segera melepaskan rasa dahaganya pula, tentu saja di mushalla terdekat,
guna menunaikan ibadah sholat magrib. Usai itu , ingin rasanya bergegas
hendak cepat pulang, karena ternyata nasi padang yang baru ku beli tak
sabar untuk segera di ” tempatkan” sebagaimana mestinya.
Kunaiki tangga penyebrangan itu , yang melintang membelah diatas jalan
, yang dibawahnya begitu banyak kendaraan, yang seakan tak ingin
berhenti memutar poros bannya, walau sedetikpun. Kusaksikan sesosok tua
yang terduduk dengan lesu di pojok jembatan penyebrangan itu, tangannya
mungkin tak kuasa lagi menengadah, hingga terbiar begitu saja diatas
pahanya. Kudekati …. Tak bergerak sedikitpun. “ Pak …… !” , suaraku
mencoba menyadarkannya. Tak ada respon sama sekali dan kucoba sekali
lagi. Tak lama kemudian kepalanya terangkat perlahan , matanya kosong ,
sekilas terlihat seperti orang gila namun hatiku mengatakan tidak , ia
seorang pengemis sebuah asumsi meyakinkanku. Dia tak bersuara
sedikitpun dan tanpa kusadari kusodorkan nasi padang itu padanya , “
Bapak sudah makan ? “ , tanyaku mencoba memancing suasana. Kepalanya
hanya menggeleng pelan dan kembali tertunduk, hatiku berkata pada
diriku, “ Tak perlu kutanyakan apakah ia berpuasa atau tidak karena
mungkin saja ia sudah berpuasa setiap harinya seperti puasa nabi Daud”,
pikirku. Kepalanya kembali terangkat dan masih ada keraguan tercermin
dimatanya. Kubuka nasiku dan kusodorkan kehadapannya. Tak perlu cuci
tangan langsung tangannya mengelap di kain sarungnya yang kumal , lalu
mulai memakan nasi itu, sangat pelan namun lama kelamaan dia mulai
terlihat seperti bertenaga kembali. Terus kutatapi ia, momen demi momen
saat pengemis itu memakan nasi padang pemberianku.
Seketika itu juga, rasa lapar mendadak menghilang di lambungku , ada
rasa kenyang yang turut kurasakan, walau hanya menyaksikan seorang
pengemis makan nasi bungkus, disaat kelaparan telah menderanya
seharian. Entahlah…… namun yang kutahu, mungkin jiwakulah…… sebenarnya
yang lapar dan dahaga itu. Jiwaku ternyata butuh diisi oleh “sepiring
sedekah dan segelas keikhlasan”. Lama sudah aku tidak melakukan ini
mungkin sudah sebulan lebih tak kulakukan lagi. Diriku terlalu asyik
dengan kesenanganku sendiri , aku menjadi lupa untuk melihat
sekelilingku. Ternyata diantara gegap gempitanya ibu kota masih
tersimpan cerita duka. Fikiranku berkata, “ Aku merasa tiada
perbedaanku dengan dirinya atas rahmat yang di berikan Allah , yaitu
rahmat lapar dan dahaga, namun hanya rezekilah yang membedakan nasip
antara aku dengan diri pengemis itu, dan Alhamdulillah terketuk hatiku
untuk berbagi dengan dirinya.”
Lalu aku berdiri , “saya tinggal dulu ya pak !” suaraku memecahkan
suasana sunyi diantara kami. “ Terimakasih pak….!” Suaranya lirih
seakan sangat menyiratkan beban hidup yang berat. “Tak apa , pak !”
sahutku diakhiri senyum terulas dibibirku. Setelah aku meninggalkannya,
di sepanjang perjalananku , hatiku seakan berbicara dengan pikiranku ,
“ Hari ini pengemis itu mungkin diberi rezeki yang mengenyangkan
perutnya dari Allah melalui tanganku namun apakah besok ia akan
mendapatkan rezeki yang sama ? “, Hatiku bertanya dan pikiranku hanya
menjawab satu kalimat , “ Wallahu alam , hanya Allah yang tahu …!”.
Dua hari telah berlalu dan hari ini aku mendengarkan satu hal , yang
kembali mengingatkanku pada peristiwa dua hari yang lalu, dari dosenku
pagi ini. Ia mengatakan “ Apakah dirimu selalu berdoa hanya untuk
dirimu saja dan apakah kamu pernah berdoa untuk orang lain ?”. Tertegun
aku saat itu dan tanpa kusadari terucap dihatiku “ Ya Allah berikanlah
rezeki pada pengemis itu melalui tangan tangan yang ikhlas , dari
tangan – tangan yang selalu mengagungkan nama-Mu !” .
Dalam : CERITA INSPIRASI