Matahari menghilang di ufuk barat, dikala azan magrib berkumandang , mengiringi akhir perjalanannya hari ini. Ada yang berbeda dengan hari –hari yang lalu dibandingkan hari ini bagiku , lalu seulas senyum bahagia tergambar diwajahku seketika mendengar suara azan itu. Hmmm….suara azan itu kontan menggiring mataku pada seorang penjual es buah dipinggir jalan. Ya…. hari ini adalah hari pertama puasa bagi umat muslim , tak terkecuali juga bagiku. 

Usai melepaskan dahaga ragaku, tak lama bathinku pun seakan ingin segera melepaskan rasa dahaganya pula, tentu saja di mushalla terdekat, guna menunaikan ibadah sholat magrib. Usai itu , ingin rasanya bergegas hendak cepat pulang, karena ternyata nasi padang yang baru ku beli tak sabar untuk segera di ” tempatkan” sebagaimana mestinya.

Kunaiki tangga penyebrangan itu , yang melintang membelah diatas jalan , yang dibawahnya begitu banyak kendaraan, yang seakan tak ingin berhenti memutar poros bannya, walau sedetikpun. Kusaksikan sesosok tua yang terduduk dengan lesu di pojok jembatan penyebrangan itu, tangannya mungkin tak kuasa lagi menengadah, hingga terbiar begitu saja diatas pahanya. Kudekati …. Tak bergerak sedikitpun. “ Pak …… !” , suaraku mencoba menyadarkannya. Tak ada respon sama sekali dan kucoba sekali lagi. Tak lama kemudian kepalanya terangkat perlahan , matanya kosong , sekilas terlihat seperti orang gila namun hatiku mengatakan tidak , ia seorang pengemis sebuah asumsi meyakinkanku. Dia tak bersuara sedikitpun dan tanpa kusadari kusodorkan nasi padang itu padanya , “ Bapak sudah makan ? “ , tanyaku mencoba memancing suasana. Kepalanya hanya menggeleng pelan dan kembali tertunduk, hatiku berkata pada diriku, “ Tak perlu kutanyakan apakah ia berpuasa atau tidak karena mungkin saja ia sudah berpuasa setiap harinya seperti puasa nabi Daud”, pikirku. Kepalanya kembali terangkat dan masih ada keraguan tercermin dimatanya. Kubuka nasiku dan kusodorkan kehadapannya. Tak perlu cuci tangan langsung tangannya mengelap di kain sarungnya yang kumal , lalu mulai memakan nasi itu, sangat pelan namun lama kelamaan dia mulai terlihat seperti bertenaga kembali. Terus kutatapi ia, momen demi momen saat pengemis itu memakan nasi padang pemberianku. 

Seketika itu juga, rasa lapar mendadak menghilang di lambungku , ada rasa kenyang yang turut kurasakan, walau hanya menyaksikan seorang pengemis makan nasi bungkus, disaat kelaparan telah menderanya seharian. Entahlah…… namun yang kutahu, mungkin jiwakulah…… sebenarnya yang lapar dan dahaga itu. Jiwaku ternyata butuh diisi oleh “sepiring sedekah dan segelas keikhlasan”. Lama sudah aku tidak melakukan ini mungkin sudah sebulan lebih tak kulakukan lagi. Diriku terlalu asyik dengan kesenanganku sendiri , aku menjadi lupa untuk melihat sekelilingku. Ternyata diantara gegap gempitanya ibu kota masih tersimpan cerita duka. Fikiranku berkata, “ Aku merasa tiada perbedaanku dengan dirinya atas rahmat yang di berikan Allah , yaitu rahmat lapar dan dahaga, namun hanya rezekilah yang membedakan nasip antara aku dengan diri pengemis itu, dan Alhamdulillah terketuk hatiku untuk berbagi dengan dirinya.”

Lalu aku berdiri , “saya tinggal dulu ya pak !” suaraku memecahkan suasana sunyi diantara kami. “ Terimakasih pak….!” Suaranya lirih seakan sangat menyiratkan beban hidup yang berat. “Tak apa , pak !” sahutku diakhiri senyum terulas dibibirku. Setelah aku meninggalkannya, di sepanjang perjalananku , hatiku seakan berbicara dengan pikiranku , “ Hari ini pengemis itu mungkin diberi rezeki yang mengenyangkan perutnya dari Allah melalui tanganku namun apakah besok ia akan mendapatkan rezeki yang sama ? “, Hatiku bertanya dan pikiranku hanya menjawab satu kalimat , “ Wallahu alam , hanya Allah yang tahu …!”. 

Dua hari telah berlalu dan hari ini aku mendengarkan satu hal , yang kembali mengingatkanku pada peristiwa dua hari yang lalu, dari dosenku pagi ini. Ia mengatakan “ Apakah dirimu selalu berdoa hanya untuk dirimu saja dan apakah kamu pernah berdoa untuk orang lain ?”. Tertegun aku saat itu dan tanpa kusadari terucap dihatiku “ Ya Allah berikanlah rezeki pada pengemis itu melalui tangan tangan yang ikhlas , dari tangan – tangan yang selalu mengagungkan nama-Mu !” .