Diary Kesetiaan Cinta
Diposkan oleh zulanda pada Jumat, Januari 8, 2010 Dalam: CERITA PENDEK FIKSI
Sulit bagiku menerima ini semua. Penyesalan selalu berada diakhir
cerita, ketika semua telah menjadi nyata. Tiada kesempatan bagiku untuk
mengulang kembali apa yang telah terjadi. Semua telah berlalu dan hanya
meninggalkan perih dihati. Mungkin dari cerita ini , aku bisa berbagi
cerita mengenai arti sebuah kesetiaan cinta yang tak bisa dinilai
dengan apapun didunia yang fana ini.
Aku bukanlah seorang pria yang setia. Aku telah buta akibat sebuah
cita-cita. Cita – cita untuk memiliki apa yang pasangan lain punya,
yaitu Buah cinta kasih , yang akan melengkapi arti dari sebuah
pernikahan. Alhasil pada akhirnya aku menjadi salah satu yang salah
dalam mengartikan makna sebuah cinta. Setelah sekian tahun
perkawinanku, kehadirannya yang dinanti - nanti tak kunjung datang jua.
Ya….Sang buah hati pelengkap hidup kami. Semua jalan telah ditempuh
namun tiada tanda-tanda sekalipun bagi kami untuk segera memilikinya
hingga akhirnya aku mengenal Zahara. Gadis yang telah menggoda hatiku
untuk mewujudkan cita-citaku melalui cinta yang lain selain annisa
istriku. Walaupun berat akhirnya annisa , istriku menyetujuinya
walaupun kutahu hatinya pasti terluka namun bisikan hasrat itu begitu
kuat, menutup mata hatiku sehingga aku menjadi buta dan salah dalam
mengambil arah.
Hari demi hari berlalu, sejak janji kedua dalam hidupku terucap untuk
Zahara, namun hal yang samapun terjadi , semua kandas dan tidak
terwujud secara nyata. Hal ini sangat berat membebani jiwa dan
pikiranku sehingga aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku.
Tiba-tiba kesadaranku berkurang dari hari kehari dan akhirnya akupun
tertidur dan terpenjara dalam alam mimpiku. Setelah itu aku tidak tahu
apa –apa lagi mengenai dunia ini.
Berbulan-bulan aku terpenjara dalam ketidaksadaranku itu, namun yang ku
tahu setelah hari itu hanyalah suara lembut yang seakan-akan
memanggilku untuk kembali ke alam nyata. Suara yang lembut, tulus dan
mampu menggetarkan alam mimpiku. Suara yang jauh namun begitu dekat
dihatiku, Aku terus berlari mencari dan terus mencari sumber suara itu.
Aku seakan berada dalam sebuah labirin yang sangat luas . Belakangan
setelah aku sadar dari tidur panjangku , Dokter mengatakan bahwa diriku
mengalami koma akibat beban pikiran yang terlalu berat sehingga aku
mengalami gangguan pada system otakku.
Ketika aku sadar tiada siapapun disampingku. Namun sungguh menyedihkan
bagiku manakala seorang suster perawat mengatakan padaku bahwa tadi
malam istriku, Annisa telah meninggal dunia saat menungguku dan
menjagaku disini. Suster mengatakan bahwa istriku Annisa, jarang tidur
karena selalu menjagaku setiap hari. Sedangkan ia tahu bahwa dirinya
mengidap kanker hati namun ia tetap setia menjagaku sampai tak ingat
waktu untuk beristirahat sekalipun. Sungguh terharu dan tanpa kusadari
air mataku menetes mendengar cerita suster itu. Suster itu mengatakan
bahwa Istriku Annisa selalu memanggilku dengan bisikan ditelingaku
untuk menyadarkanku dari komaku. Seketika usai mendengar itu, kepalaku
pusing dan langsung tak sadarkan diri lagi.
Seminggu kemudian aku baru sadar kembali dan akan tetapi kali ini ada
Zahara disisiku. Aku berusaha bangkit namun dokter melarangku dan
mengatakan padaku supaya aku menjaga kondisi psykologiku karena bila
aku pingsan lagi dikhawatirkan aku akan menderita amnesia permanen.
Zahara tersenyum padaku , lalu aku bertanya “ Dimana Annisa ? “ dan
Zahara mengatakan dengan lembut , “ Istirahatlah mas, nanti bila
kesehatanmu membaik aku akan menceritakan semuanya…”, sambil
menyelimutiku kembali dan mengelus keningku, namun air mataku tetap
membias dipelupuk mataku.
Sebulan kemudian, akhirnya kesehatanku benar-benar pulih. Beberapa hari
lagi Dokter mengizinkanku untuk pulang , namun tetap harus selalu
control setiap minggunya. Saat hari itu tiba Zahara membawaku ke Pusara
Annisa. Aku tertunduk malu didepan Pusaranya dan air mataku menetes
seakan penuh sesal karena tak sempat mengucapkan terimakasih atas
pengorbanan cintanya, betapa hinanya diriku didepan nisannya. Ya hari
ini seorang pria yang tak setia memegang janji cintanya, telah
bersimpuh didepannya yang tak lagi ada didunia ini, yang ada hanya
jasad yang terkubur dibawah taburan bunga melati , tempat
peristirahatan terakhir manusia di dunia yang fana ini.
Lalu Zahara memecah lamunan kesedihanku, “ Mas , sudahlah…. jangan
engkau buat Annisa bersedih di alam sana….. , ini ada surat dari Annisa
untukmu …..dia menitipkan ini sebelum ia berpulang mas….”, Tangan
Zahara menyodorkan sebuah surat beramplop warna putih. Lalu kuraih dan
kubaca dengan tangan gemetar seakan Annisa hadir dihadapanku.
Assalamualaikum , Wr , Wb
Alhamdulillah , kuucapkan syukur hari ini atas karunia Allah untuk
suamiku. Aku yakin saat mas membaca suratku ini , mas sudah dalam
keadaan sehat seperti yang kuimpikan dan kunantikan selama ini.
Mas Gunawan yang kucintai, mungkin saat mas membaca surat ini aku sudah
mendahuluimu meninggalkan dunia fana ini, namun izinkan terlebih dahulu
aku memohon maaf bila ada kesalahanku sebagai istri dalam pengabdianku
padamu selama ini.
Mas Gunawan, suamiku, janganlah bersedih apalagi menumpahkan air mataku
dipusaraku kelak. Aku mau mas hadir dipusaraku dan tersenyum padaku ,
supaya aku puas bahwa pengorbananku tidak sia – sia selama ini.
Mas Gunawan yang sangat kucintai, Aku yakin sekarang Zahara ada
disampingmu, aku telah meminta padanya untuk menjagamu sepanjang
hayatmu kelak. Walaupun diriku bukanlah dirinya namun anggaplah itu
sama. Lanjutkan kehidupan ini dengan berbahagia wahai kekasih hatiku,
sampai saatnya tiba kelak , manakala Allah memberikan batas waktu pada
ciptaan-Nya. Aku kan menantimu kelak di pintu surga untuk bersamamu
kembali dan juga bersama Zahara. Sampai jumpa Suamiku , aku takkan
mengucapkan selamat tinggal padamu karena aku tahu , aku tetap dihatimu.
Wassalam
ANNISA
Kucium surat itu, sebagai tanda rinduku pada Annisa , Istriku. Lalu
kuusap nisannya dan kukatakan , ” Annisa ….. maafkan aku ….”, hanya
kata itu yang dapat meluncur dibibirku dan kemudian aku memberikan
senyumku pada pusaranya sesuai amanat suratnya itu. Terdengar nada
panggilan handphone dari dalam tas Zahara, lalu Zahara mengangkatnya. “
Mas ada telepon dari Rumah Sakit katanya ada yang ketinggalan di sana,
kita diminta mengambilnya katanya penting.” Zahara menyadarkan
lamunanku. “ Baiklah , Mari kita kesana …!”, Jawabku. Setelah berdoa
akupun pamit pada pusaranya lalu beranjak meninggalkan komplek kuburan
itu.
Sesampai di Rumah Sakit, kami langsung dihampiri suster yang pernah
menceritakan perihal istriku, Annisa, saatku pertama tersadar dari
komaku dulu. “ Maaf Pak Gunawan , bisa saya bicara empat mata dengan
anda ? “, Tanya suster itu santun. Aku hanya mengangguk dan mengikuti
suster itu keruangannya, hanya berdua dengan suster itu. Ia
mengeluarkan buku dari dalam tasnya , “ Pak Gunawan , saya menemukan
ini dibawah kasur tempat tidur anda”, kata suster itu sambil
menyerahkan buku bersampul biru, mirip notes bentuknya, lalu suster itu
melanjutkan , “ Maaf saya membaca beberapa halamannya, karena saya
tidak tahu siapa yang punya tetapi sepertinya buku itu adalah Diary
milik istri anda, Ibu Annisa”. Tertegun aku sesaat karena belum pernah
selama ini kulihat istriku menulis sesuatu dibuku sejak kami menikah
dulu. Kubuka lembaran pertama :
Annisa , begitu mereka memanggilku , sebuah nama indah pemberian ibuku
atas kelahiranku. Namun kebahagiaan itu tak sejalan dengan kehidupanku
yang selanjutnya yang penuh akan cobaan sebagai seorang wanita. Wanita
yang menjadi sebagai pintu gerbang kehidupan buah cinta, bagi pasangan
manusia ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Melalui diary ini , aku akan berkeluh kesah mengenai kisah hidupku yang
selalu diombang ambing oleh ganasnya gelombang kehidupan. Kehidupan
yang mungkin tak pernah kubayangkan apalagi kucita-citakan , namun
Tuhan telah menggariskan demikian dan aku sebagai manusia tak berhak
untuk bertanya mengapa , melainkan hanya bersyukur dan yakin bahwa
semua itu ada hikmahnya. Walaupun hikmah itu kita dapatkan manakala
kita telah tiada.
Tahun demi tahun berlalu sudah. Buah cinta yang kami nantikan
kehadirannya tak kunjung datang jua. Lelah kami mencoba, berbagai macam
cara telah kami tempuh namun Tuhan belum juga berkenan memberikannya ,
walaupun hanya lewat tanda – tanda sekalipun. Ya Allah , kukan tetap
sujud pada-Mu, walaupun ujian – Mu ini begitu berat bagiku.
Keikhlasanku kan selalu beriring dengan kesabaranku untuk menjalani
takdir- Mu , Ya Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Betapa sakitnya diriku , manakala berita itu bagai petir mencambuk
nyawaku. Suamiku , yang kucintai …. akhirnya tak mampu untuk sabar dan
mencari jalan lain ke Roma, dan takluk dalam godaan cinta yang lain.
Cinta yang baginya akan membawa angin surga, yang menjanjikan sebuah
jalan untuk melahirkan putra keturunannya. Hingga saat yang kutakutkan
itu terjadi dan aku tak kuasa menolaknya, walaupun harus berurai air
mata , ku ikhlaskan dirimu untuk memaduku dalam pelabuhan cintanya.
Mendadak kepalaku pusing, lalu aku mengatakan pada suster tersebut.”
Kepalaku sakit sekali…Suster, mungkin saya harus menginap lagi hari ini
dirumah sakit ini”. Mendengar keluhanku, Suster itu segera memanggil
dokter. Oleh dokter aku disarankan untuk kembali beristirahat di Rumah
Sakit tersebut. Atas ijin dokter tersebut aku diijinkan untuk kembali
beristirahat dikamarku yang terdahulu, saat aku koma dulu dengan alasan
bahwa kamar itu lebih tenang. Zahara menghampiriku dan aku memintanya
untuk kembali esok hari karena aku ingin istirahat tenang hari ini. Aku
hanya pura-pura tidur saja saat itu , manakala semuanya telah
meninggalkanku kembali kubuka buku Diary miliki Annisa , Istriku.
Kulanjutkan halaman demi halaman :
Dear Diary……mungkin hari ini dan seterusnya , hanya dirimulah yang akan
mendengarkan curahan hatiku. Tiada yang ku percaya lagi didunia ini
selain engkau ….. Diary dan pena sahabatku, yang setia dan tak pernah
berdusta. Lewat tulisanku dihalamanmu, itulah curahan hatiku yang
takkan terucapkan pada suamiku yang tercinta, yang terkasih , yang
telah mengikat diriku dalam pelabuhan cintanya. Mungkin suatu saat
engkaupun akan bercerita padanya namun kuharap tetaplah setia padaku ,
wahai Diary kesayanganku,
Suamiku …….banyak yang akan kusampaikan padamu namun tak kuasa bibir
ini untuk mencurahkan kata hatiku padamu. Sehingga aku hanya menuliskan
kata-kata hatiku di Diary ini, karena aku yakin diary ini tidak akan
bersuara seperti bibirku saat ini, biarlah kucurahkan semua di buku ini
agar aku dapat berkeluh kesah tanpa membuat luka dihatimu.
Wahai suamiku yang tercinta……….mungkin tak ada yang mampu kuberikan
padamu. Hidupku ibarat sesuatu yang hampa tanpa buah cinta kasih kita
yang hadir dalam pelukanmu. Namun hanya kesetiaanlah yang mampu
kuberikan padamu hingga maut menjemputku kelak dikemudian hari manakala
saat itu tiba.
Wahai suamiku yang terkasih ……Mungkin sakit ditubuhku ini tak sebanding
dengan sakitnya hatiku ini ketika engkau memberi madu padaku. Mungkin
bila aku tidak mengingat Tuhan…… sudah kulepaskan raga ini
meninggalkanmu , akan tetapi cinta ini begitu buta bagiku. Biarlah
telinga ini mendengar , akan tetapi butakan mataku ntuk melihat dirimu
bersanding dengannya.
Wahai Suamiku kekasih hatiku ...... hari ini sudah ada keikhlasan di
hatiku. Namun kuharap Tuhan masih membutakan mataku melihat dirimu,
bergandengan tangan dengan dirinya. Oh...suamiku mengapa engkau
mengikat erat hatiku seperti mengikat bahtera di pelabuhan cintamu
hingga aku tak mampu untuk melepaskan pautanmu yang begitu kuat dari
diriku. Akan tetapi kumohon tetaplah tersenyum padaku , jangan engkau
menatapku seakan-akan aku tak mampu karena hanya Tuhanlah yang tahu
betapa kuatnya kesetiaan cintaku pada dirimu.
Sebulan telah berlalu, aku terbiasa sudah kini wahai suamiku . Walaupun
luka hatiku tak kan pernah sembuh, namun kini telah mengering seiring
keringnya air mataku, meratapi nasipku yang malang ini. Suamiku tahukah
engkau betapa kuatnya cintaku ? Seandainya engkau dapat menyelami
hatiku maka engkau akan menemukan kekuatan cintaku yang tertanam kuat
di dalam sanubari hatiku yang terdalam. Walaupun pelabuhan cintamu
telah berbagi dengan tambatan bahtera lain, namun bagiku takkan
mengurangi kadar cintaku untuk mengabdi padamu.
Wahai Suamiku, pujaan hatiku ……sudah tiga bulan ini penyakit itu
bersarang ditubuhmu. Dirimu bagai hidup di alam maya dalam pandangan
mataku. Nafas lemahmu seakan enggan untuk menarik udara didalam tabung
penyambung hidupmu. Tapi dihatiku engkau tetap pujaan hatiku , walaupun
hingga waktu menghadirkan malaikat maut ntuk menjemputmu.
Wahai Suamiku, pemilik hatiku ..... Kini aku sendiri mendampingi
dirimu. Bundaku telah meninggalkan dunia fana ini, bahkan ayahkupun
seakan tak ingin berpisah lama dengan bundaku, beliau juga menyusul
mendampingi bundaku disisi pusaranya. Kanda akankah kita bahagia
seperti mereka atau sebaliknya ? Namun yang pasti ku kan tabah
mendampingimu walaupun dirimu hanya terbujur kaku dihadapanku.
Wahai Suamiku cahaya cintaku....... Sakit didadaku tak kunjung sembuh
dari hari ke hari. Lemas seketika saat aku mendapatkan berita mengenai
penyakitku ini. Kanker telah menyelimuti hatiku , mungkinkah diriku
akan mendahuluimu atau kita kan bersama menyongsong lorong waktu menuju
pintu akhir kehidupan yang fana ini ? Hmmm.......tidak suamiku biarlah
semua hartaku habis hanya untuk mengobati dirimu, aku akan berkorban
padamu. Warisan orang tuaku hanyalah untukmu , kan kucari dokter yang
terbaik untukmu , kan kucari obat yang termujarab bagimu, aku takkan
pernah menyerah suamiku.
Wahai suamiku pendamping hidupku …….. banyak pria yang telah menawarkan
cintanya padaku, namun jiwaku bukanlah milik diriku lagi tapi milik
engkau, suamiku sehingga tak mungkin lagi bagiku untuk berbagi cinta
dengan yg lain, tiada yang mampu untuk membuat diriku berpaling dari
cintaku padamu, namun tak sedetikpun aku ragu tentang kekuatan cinta
kita, walaupun engkau membagi cinta dengan bunga yang lain namun engkau
tetaplah pemilik jiwa dan hatiku, oh.. sayangku.
Wahai Suamiku, cintaku yang abadi ……. betapa bahagianya diriku hari ini
Tuhan telah mengabulkan doaku dalam sembah sujudku pada-Nya. Ku harap
penantian panjang ini akan berakhir dengan senyum diwajahmu. Pupus
sudah kemarau dihatiku …..sadarlah…..sadarlah dari tidur panjangmu aku
kan terjaga menantikan detik detik itu.
Wahai suamiku …oh…sayangku…….. bangunlah , waktuku tak panjang ntuk
menantikan kebahagiaan ini. Bukalah matamu ….. dengarkanlah bisikan
lembutku ditelingamu…..bangunlah…..
aku
kini telah dikejar waktu , maut sudah mengetuk didepan rumah kita,
menantikanku untuk kembali kepada Tuhan dan takkan kembali di sisi
hadapanmu.
Suamiku……mungkin inilah keluh kesah terakhirku, rangkaian kata yang
akan mengakhiri semua perjalanan hidupku. Aku kan membawa cinta ini ,
menjadi memory yang abadi selamanya dihatiku, sekalipunpun tubuhku
nanti bercampur dengan tanah disamping pusara ayah dan ibuku. Maafkan
aku suamiku bila aku tak mampu memberikan pengabdianku sepenuhnya
untukmu hingga akhir hayatku, namun aku akan bahagia bila engkau terus
melanjutkan hidup didunia ini. Gandenglah tangannya di sisimu……..kini
aku tersenyum bahagia menyaksikannya, tidak seperti dulu saat
keikhlasan belum memeluk hatiku ini. Sayangku…………….”Aku Sangat
Mencintaimu”
Kututup Diary itu. Diary yang berisi curahan hati, Annisa, istriku.
Teriris rasanya hatiku usai membaca curahan hatinya yang terekam lembar
demi lembar di diary kesayangannya itu. Hanya penyesalan yang kini
hadir dihadapanku , karena aku telah berdosa menyia-nyiakan cahaya yang
selalu menerangi hidupku, cahaya yang tak pernah lelah menjagaku, tak
pernah mengeluh berkorban untukku. Tak kuasa diriku membendung air mata
ini untuk tumpah membasahi pipiku lagi. Tak ada kata yang mampu
menggambarkan secara rinci betapa perih dan menyesalnya diriku saat
ini. Kucium diary itu dan tanpa sengaja tanganku merasakan seperti ada
kertas yang terselip disampul belakangnya. Ya….itu adalah surat tulisan
tangan dari Annisa, istriku. Tulisannya begitu kabur seperti terkena
tumpahan air namun masih bisa untuk dibaca. Lembar pertama berisikan
surat Annisa yang ditujukan kepadaku yang diberikan Zahara di saat kami
berziarah ke Pusara Annisa. Isinya persis sama dan kini kupahami
mengapa surat itu ada dua, ada perbedaan dengan surat yang sebelumnya
karena surat yang ini begitu banyak tulisan yang kabur, mungkinkah
karena air matanya begitu deras saat menulis surat ini pikirku,
sehingga terlihat kaburlah tulisan dilembaran itu. Oleh karena itu maka
Annisa menyalinnya ulang untuk dikirim padaku. Lalu ku balik kertas itu
sama kaburnya namun ada isi yang berbeda. Isinya tentang surat yang
ditujukan untuk Zahara, kemudian kubaca dengan seksama :
Assalamualikum wr.wb
Sebelumnya aku memohon maaf padamu. Mungkin dirimu tidak berkenan
menerima suratku ini. Namun dengan kerendahan hati aku memohon padamu ,
kembalilah pada suami kita. Tak lama lagi dia akan sadar …… dokter
telah mengatakan bahwa syaraf-syarafnya telah kembali membaik.
Terapinya berhasil, kini tinggal menunggu saat-saat kesadarannya.
Zahara , maduku yang baik, jagalah suami kita dengan baik. Berikanlah
kasih dan sayangmu padanya, sesungguhnya dia adalah orang yang lemah
hatinya , jangan biarkan ia memikul sendiri kehidupan ini.
Zahara, mungkin waktuku tak dapat menantikan dirinya, saat ia bangun
dari tidur panjangnya. Hadirlah disini, di Rumah Sakit Harapan Insan,
ia juga menantikan kehadiranmu dalam mimpinya.
Zahara, bila Tuhan telah mendahului menjemputku sebelum kebangkitannya
dari tidur panjangnya itu. Aku memohon padamu gantikan aku untuk
mengatakan bahwa “ aku sangat mencintaimu, wahai suamiku “, walaupun
kalimat itu akan terucap dari bibirmu tapi katakanlah dengan lembut dan
penuh cinta kasih dan wakilkan aku untuk menciumi tangannya sepanjang
hidupnya.
Zahara kutitipkan padamu sepucuk surat untuk suami kita manakala aku
telah tiada , berikanlah padanya ketika ia sudah benar-benar sembuh dan
sampaikan maafku karena menitipkan surat ini padamu karena aku tak
dapat mendampinginya dan memberikan pengabdianku seumur hidupnya
Terimakasih Zahara, aku dan dirinya menantikan dirimu untuk hadir disini, untuk kita bersama lagi.
Wassalam
ANNISA
Termenung aku seketika, Betapa luar biasanya dirinya padaku yang
mengorbankan segalanya untukku. Untuk pria yang selayaknya tak patut
mendapatkan karunia cinta sebesar ini. Aku tertunduk malu pada diriku
sendiri dan hatiku berkata , “ Annisa Istriku……..Aku sangat
mencintaimu…aku takkan melukai cintamu untuk kedua kalinya, cukuplah
sudah semua ini …. mungkin aku hanya ditakdirkan untukmu…wahai Annisa,
Istriku yang tercinta. Kuraih pena disudut meja dan kutulis semua apa
yang telah terjadi tentang hidupku bersamanya di halaman selanjutnya.
Lalu diakhir paragraph kutuliskan :
Cinta....Ungkapan hati dalam bentuk untaian mutiara kata. Lama aku
bertanya dihatiku tentang arti sebuah cinta. Arti Cinta bagi seorang
Annisa, " Cinta yg tak terbagi namun sanggup untuk berbagi ". Cinta
yang tak biasa ..... cinta yang tak mengenal lelah dalam
pengorbanannya. Itulah cinta yang sejati dan terukir indah dihati
pemiliknya. Benar sekali itulah cinta istriku yang terkasih , yang
telah mengorbankan segalanya demi diriku, namun tak sempat bagiku untuk
membalas semuanya karena waktu tidak berpihak padaku. Tapi aku yakin
hingga akhir hayatku nanti aku kan selalu menjaga kesetiaan cinta ini.
Annisa, Istriku, aku akan menyonsong lorong waktu itu. Aku melihat
dirimu berdiri didepan pintu rumah kita menyambut kedatanganku. Lalu
kupeluk dirimu dan aku berkata , “ Aku Sangat Mencintaimu……………………………………… …………………….”
Zahara menutup buku Diary itu. Gunawan telah meninggal tadi malam. Ia
menderita stroke hebat hingga mengalami pendarahan di otaknya, namun ia
berhasil menyelesaikan tulisannya dibuku Diary itu. Lalu Zahara
menuliskan sebuah judul didepan buku itu “ Diary Kesetiaan Cinta “,
lalu dibawahnya “ Untuk cinta yang abadi selamanya, Annisa dan Gunawan
“ .
Dalam : CERITA PENDEK FIKSI