“ Wah gunung itu sangat indah ya yang ….”, bibir mungil gadis itu menggambarkan keindahan pemandangan alam pegunungan yang terhampar luas dihadapannya, sambil bergelayutan dibahu pasangan kekasihnya.

“Hmm……tahukah dinda bahwa gunung itu sebenarnya tak seindah mata kita memandang ? “, kata kekasih pria gadis itu dengan seksama.

Tertegun sesaat gadis itu, “ Kamu kok ngga romantis sih, yang…!” , protes lembut dari gadis itu dengan nada manja.

Kekasih prianya tersenyum, lalu memandang wajah kekasihnya dengan tatapan lembut.

“ Tahukah dinda….ketika kita mendekati gunung itu … maka semakin nyatalah bahwa gunung itu tidak seperti saat ketika kita….. berdiri disini …..!” ,kata kekasih prianya dengan lembut. Kemudian ia melanjutkan , “ coba liat pakai teropong ini ….” , kekasih prianya mendekatkan sebuah teropong di mata gadis itu. 

Hening sesaat manakala gadis itu melihat pemandangan sekelilingnya dengan teropong itu. “ iya kamu benar , yang …… dikaki bukit itu begitu terjal …. Semakin ke atas semakin terjal dan curam…..”, kata gadis itu serius. “ apalagi yang kamu lihat ? …” , kekasih prianya bertanya pada gadis itu. “ ngga begitu jelas sih …. Hmmm….Ada orang yang mendaki di kaki gunung itu lho …” teriakan kecil gadis itu pada kekasih prianya. 

Kekasih prianya berkata “ Tahukah adinda ….. yang dinda lihat itu hanya sebagian kecil yang mungkin dinda hadapi, bila dinda mendekati dan mendaki gunung itu “. “ Masih banyak yang tak dapat kita tebak disana , mungkin saja ada hewan buas dan berbisa, mungkin saja kita bisa terpeleset dan jatuh … atau kita tersesat …. semua itu….. tidak menutupi terhadap berbagai macam – macam kemungkinan…!”.

“ Ternyata demikian ya , sayang ……. Mungkin tidak semua orang bisa mendakinya ya , sayang….”, gadis itu berbicara lirih. 

Kekasihnya lalu tersenyum, “ Tahukah dinda ….. pada dasarnya semua orang mampu untuk mendakinya ….. hanya tinggal dirinya saja ….apakah ia berniat atau tidak ….. yah….tentu saja semua itu tak lepas dari takdir Allah … yang mengizinkan diri manusia itu untuk dapat mencapai puncak itu….!“.

Hening sesaat … gadis itu hanya terdiam saat kekasih prianya menjelaskan hal itu padanya. Lalu kekasih prianya melanjutkan pembicaraannya , “ Dinda , mengertikah kamu …. Apa yang kumaksud dari semua penjelasanku tadi ? “ , Tanya pria itu pada gadis itu. Gadis itu memandangi wajah kekasih prianya dengan seksama sambil mencoba mencari maksud tersembunyi dari pembicaraan kekasihnya itu, lalu gadis itu menggeleng kecil lalu tersenyum malu. 

“ itulah pernikahan …..” , jawab pria itu diringi dengan senyum manisnya. Kontan gadis itu mengkerutkan kening sebagai tanda tak mengerti dengan ucapan pria itu. 

“ Ya ….. bila sepasang kekasih yang belum menikah atau lagi berpacaran akan merasakan hal yang sama saat melihat gunung itu dari kejauhan……begitu indah dan seakan-akan menggambarkan sebuah harapan yang indah dimata mereka….!”. 

“ Namun manakala mereka mulai mendekati gunung itu maka mereka akan mulai gamang dan cemas ….. apakah mereka mampu untuk mendaki menuju puncak harapan itu !”. 

“ Gunung yang tadi indah ….. kini telah berubah menjadi bebatuan yang terjal dan curam dengan segala macam ancaman……baik hewan buas maupun yang berbisa dan sebagainya……..itulah awal dari suatu pernikahan, adinda ”. 

Kata – kata kekasih pria gadis itu sungguh mengena dihati gadis itu, yang mulai mengerti maksud dari pembicaraan sebelumnya. 

“ Sanggupkah kita mendaki puncak harapan itu sayang ? “ ,Tanya gadis itu penuh keraguan. 

“ Takdir Allah memang telah tertulis, adindaku ……. Namun Iapun mengatakan takkan mengubah nasip manusia kecuali manusia itu mau berusaha dan berdoa pada-Nya…….. itu keyakinan pertama saat kita akan memulai semuanya , sayangku !”

“ …. Lalu itulah maksud mengapa manusia tidak dapat mendaki puncak harapan itu seorang diri, karena ia membutuhkan teman dalam hidupnya …… bergandengan tangan , saling menjaga, saling mengingatkan, saling memperhatikan, saling memberi semangat, saling menghibur …… intinya adalah saling berbagi rasa dalam kebersamaan , sayangku !” , kata kekasih prianya meyakinkan gadis itu dan memandangi mata gadis itu dalam-dalam. 

Gadis itu meneteskan air mata ….. bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan dan mengucapkan syukur pada Allah , “ Terimakasih Ya Allah ….. Engkau telah menciptakan pria yang terbaik untukku …….. bersamaku kelak….. menjalani hidup menuju puncak harapan yang sudah didepan mata …………!”