apa yang kutulis ini adalah jawaban dari pertanyaanku yang mengganjal dalam hatiku beberapa hari ini. lalu malam tadi aku bermimpi, dan aku yakin inilah jawaban mimpiku. Secara singkat aku akan bercerita kepada para sahabat sekalian : 

Disebuah desa ada seorang saudagar yang bernama ali. Seperti biasa yang telah menjadi kebiasaan didesa tersebut, setelah musim panen usai, tibalah musim dagang, dimana seluruh hasil bumi akan dijual ke ibu kota kerajaan yang cukup jauh dari desa tersebut. Saudagar ali beserta rombongan yang lain memulai perjalanannya. 

Setelah sepuluh hari berjalan. Mereka melewati sebuah kampung yg sedang dilanda kelaparan, panen mereka gagal untuk tahun ini. Saudagar ali sangat kasihan dengan kampung itu. Ia rela menukarkan barang dagangannya yaitu gandum, dengan beberapa gentong air saja, karena hanya airlah yang dipunyai kampung itu. Sedangkan saudagar lain hanya mencemoohnya. Tapi dengan senyum bahagia Saudagar ali mengikhlaskannya. 

Lalu rombongan itu kembali melanjutkan perjalannya. Kemudian diperjalanan rombongan itu dihantam badai padang pasir. Selama hampir seminggu mereka berlindung di belakang unta mereka, mulailah mereka kehabisan air. Lalu dengan baik hati saudagar ali memberikan airnya dengan rombongan yg lain. 
Setelah seminggu, mereka baru bisa melanjutkan perjalanan kembali. Lalu sampailah mereka pada suatu kampung yang gersang yg sedang kesulitan air. Persediaan air Saudagar ali tinggal sedikit, lalu dengan ikhlasnya saudagar ali memberikan air dan sisa gandum yg dimilikinya dengan kampung itu. Sebagai balasannya, kampung itu memberikan mereka baju usang yang telah lusuh, krn hanya itu yg kampung itu punya.

“ kami hanya mempunyai dua lembar baju , terimalah baju yg terbaik dari yang kami punya, bagi anda wahai Saudagar yang budiman “, kata kepala suku kampung itu. Saudagar ali menolak dan mengatakan bahwa ia ikhlas membantu kampung itu, tetapi kepala suku kampung itu bersikeras untuk memberikan baju itu padanya. Akhirnya saudagar ali menerima juga dan membawanya juga. 

Karena sudah tak mungkin kembali ke desanya sendiri, saudagar ali kembali melanjutkan perjalanan dengan rombongan. Lalu diperjalanan rombongan dagang itu dirampok oleh perampok padang pasir yang terkenal sangat sadis, semua harta mereka dikuras, bahkan sampai pakaian indah yg mereka kenakan, juga disuruh untuk dilepaskan, kecuali beberapa baju lusuh yg dibawa saudagar ali. Setelahnya, perampok itu meninggalkan mereka dlm keadaan telanjang. Saudagar ali lalu memberikan baju bekas itu kepada seluruh rombongan itu. Sungguh ajaib jumlah keseluruhan pakaian sesuai dengan jumlah mereka. Lalu dengan tertatih tatih mereka melanjutkan perjalanannya. dan tak lama kemudian mereka ditangkap oleh sekelompok penjahat padang pasir yg menganggap mereka adalah para budak, maka dengan serta merta mereka dimasukkan dalam kereta kerangkeng budak yg besar lalu dibawalah ke kota untuk dijual. 

Sesampai dikota, tiba tiba seorang saudagar dikota itu yang bernama Shah mengenali mereka, karena kedekatan saudagar itu dengan raja maka rombongan itu dibebaskan. Sang raja sangat penasaran dengan teman saudagar shah itu, maka diperintahkanlah saudagar shah untuk menghadapkan rombongan pedagang yg malang itu kepadanya. 

Lalu setelah seluruh pedagang itu menghadap raja, berceritalah saudagar ali tentang apa yg mereka alami dlm perjalanan mereka. Disaat mendengar kisah kampung yg kelaparan, maka lalu raja itu memerintahkan tentaranya mengirimkan makanan pada kampung itu, dan mengirimkan air untuk kampung yg sedang dilanda kekeringan. Lalu saat mendengar ada perampok dipadang pasir yg merampok rombongan pedagang itu, lalu raja memerintahkan tentaranya untuk mencari perampok itu, namun sungguh tak diduga, perampok itu akan menjual barang rampoknya di ibu kota kerajaan, tentu saja sangat mudah bagi tentara raja menemukan mereka lalu perampok dipenjara dan barang dagangan rombongan itu dikembalikan pada mereka. 

Betapa bahagianya rombongan itu, lalu bertanyalah raja pada saudagar itu , '' Sekarang tiada harta yang engkau miliki dan tiada barang dagangan yg dapat engkau jual wahai saudagar ali ? '' tanya raja , lalu sang saudagar itu menjawab , '' Yang mulia , Tuhan itu memberikan apa yang dibutuhkan oleh kita, mungkin kita tidak mengetahui apa apa saja yg kita butuhkan dalam hidup kita dan kadangkala kita merasa pemberian-Nya, terlihat tidak baik bagi kita , namun kita tidak menyadari bahwa Ia Maha Mengetahui apa-apa saja yg kita butuhkan, Ia tidak akan pernah luput memperhatikan kita, selagi kitapun tidak pernah luput untuk memperhatikan makhluk ciptaan-Nya yg lain.''
Lalu raja itupun tersenyum, '' Sungguh bijak wahai engkau saudagar, darimana engkau mengetahui hal itu ? ''. 

Lalu saudagar ali menjelaskan, '' ketika hamba hendak berdagang , hamba bingung akan berdagang apa , lalu hamba memutuskan untuk berdagang gandum, lalu entah mengapa begitu mudahnya bagi hamba untuk mendapatkan gandum yang bagus dengan harga yg sangat murah “. 
lalu saudagar ali melanjutkan , “ Dalam perjalanan, hamba melihat kampung yang sedang dilanda kelaparan, maka terbersit dihati hamba bahwa kemudahan yang saya alami dalam mendapatkan gandum itu juga karena doa mereka yang kelaparan, yang membutuhkan gandum yang saya bawa, maka saya memberikannya pada mereka lalu mereka menukarnya dengan beberapa gentong air ” . 
“ lalu disaat badai padang pasir menghantam kami, air itulah yang sangat kami butuhkan karena persediaan air rombongan yang lain telah habis, itulah pemberian Tuhan , mungkin dalam pikiran kita, berapalah harga dari segentong air dibanding sekarung gandum, akan tetapi air yg terlihat murah itu adalah yang sangat kami butuhkan saat itu ”.

“ lalu kami melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi kami menemukan kampung yang dilanda kekeringan, lalu saya memberikan air dan sisa gandum yang saya punya, lalu mereka membalasnya dengan memberikan baju lusuh, yg bagi mereka adalah yang terbaik dari yang mereka punya”. 

“ Dalam perjalan selanjutnya secara tak terduga ternyata kami dirampok, semuanya dirampas, termasuk baju kami, kecuali baju lusuh pemberian dari kampung itu. Dengan baju itulah kami tidak telanjang walaupun jauh dari keindahan baju kami yang sebelumnya namun itulah pemberian Tuhan yang sangat kami butuhkan saat itu yang tidak dikehendaki oleh perampok itu ”. 

Kemudian saudagar ali terdiam sejenak dan melanjutkan kembali perkataannya, “ Pada saat itu, kami hanya bisa berjalan dipadang pasir dengan bertelanjang kaki, hingga akhirnya kami ditangkap dan dikira budak yang dapat dijual ”. “ Sungguh Tuhan Maha besar , seandainya kami tidak ditangkap penjahat itu dan tidak dibawa kemari untuk dijual, maka kami akan mati dipadang pasir yang gersang karena tak mungkin bagi kami untuk berjalan tanpa kendaraan, lalu sesampai di kota ini, lagi – lagi kami terselamatkan oleh Saudagar Shah dan berkat bantuan yang mulia kami dapat bebas dan bahkan barang dagangan kami dapat kembali pada kami dalam keadaan utuh. ” 

Raja hanya manggut manggut mendengar perkataan saudagar ali , lalu ia berkata ” engkau sungguh luar biasa ......... ! ” 

Lalu saudagar ali berkata , ” tiada yang luar biasa dari hamba yang mulia , karena hamba hanya selalu ingat perkataan ayah hamba, mintalah pada Tuhan Yang Maha Mengetahui , tuliskan dalam hatimu apa apa yang engkau inginkan, percayalah......bila Tuhan Menghendakinya maka Ia akan memerintahkan alam semesta jagad raya ini, untuk membantumu untuk mewujudkan keinginanmu, sesuai dengan yang engkau butuhkan. ”