Misteri kehidupan
Diposkan oleh zulanda pada Jumat, Januari 8, 2010 Dalam: CERITA PENDEK FIKSI
Jembatan ditengah sebuah kota yang indah , terlihat seorang pemuda yang
termenung sambil memandangi derasnya aliran air yang membelah dibawah
jembatan itu. Matanya hanya menatap kosong , tak tahu pikirannya entah
kemana saat itu.
Ya….pemuda itu sedang dirundung kesedihan yang mendalam. Istrinya baru
meninggal tadi pagi , jiwanya terasa hampa kini, hidupnya tak ubahnya
bagai mayat yang bernyawa. Sedangkan disisi depannya sedang duduk
seorang kakek tua dengan topi caping sambil kedua tangannya menggenggam
sebatang bambu , tepatnya ia seperti sedang memancing di derasnya
sungai kecil yang dihubungkan oleh jembatan tempat mereka berada.
Matahari seakan tegak lurus diatas kepala mereka, namun teriknya tak
membuat mereka berdua bergeming dari posisinya. “ apa yang sedang
engkau pikirkan anak muda ? “ , kakek itu berbicara dengan pandangan
tetap pada pancingnya, tak menoleh sedikitpun. Lalu kakek itu tersenyum
kecil, “ Seandainya malaikat maut datang menyapamu , apakah engkau
masih diam anak muda ? “ suara kakek itu terdengar agak nyaring. Lama
senyap ……… “ Seandainya ada malaikat maut yang datang menyapaku , aku
akan mengatakan agar ia segera mengambil nyawaku , kek !” tiba-tiba
pemuda itu bersuara memecah keheningan diantara mereka berdua. “
Sepertinya engkau akan menjadi salah satu dari sekian banyak , orang
yang mengakhiri hidup disungai ini…..!” lalu kakek itu melanjutkan “
apa masalahmu anak muda ? “. “ Siapa yang mampu hidup manakala orang
yang dicintai dan dikasihinya telah tiada , kek ! “ lalu pemuda itu
melanjutkan “ Istriku telah tiada tadi pagi , ia menderita sakit keras
, sedangkan aku tak mampu berbuat apa-apa untuk mengobatinya …..” ,
suara lirihnya cukup menyayat hati seiring bulir – bulir air menetes
dari matanya.
Kakek itu berkata “ aku turut berduka cita , anak muda , hidup memang
penuh misteri dan misteri itu hanya milik Tuhan ! kita selalu
mengetahui misteri itu apabila waktu sudah sepakat untuk bercerita pada
kita….” , kemudian kakek itu melanjutkan “ Apa yang engkau alami ,
sudah pernah kurasakan , mungkin selama ini aku adalah salah satu
diantara mereka juga, mereka yang pernah putus asa dan termenung
dijembatan ini, bahkan hampir mengakhiri hidupku dibawah sana….”.
Pemuda itu menghampiri kakek itu dan duduk di sisi kanannya. “ lalu kek
? “ pemuda itu mulai penasaran terhadap kakek itu. Tanpa menoleh kakek
itu kembali bercerita , seolah – olah matanya menerawang jauh ,
mengingat kenangan yang mungkin dirasakan pahit baginya. “ aku sudah
menikah sebanyak tiga kali , istriku yang pertama adalah seorang yang
kaya raya, seorang pedagang yang sukses walaupun masih dalam usia muda.
Setelah kami menikah, kami selalu dihadapkan pada kesibukan mengejar
harta, usaha kami maju dengan pesatnya, kami sungguh sangat berbahagia
….namun sungguh tak diduga…..kami kerampokan , istriku meninggal ketika
ia ingin mempertahankan hartanya sedangkan aku tak mampu berbuat apa –
apa karena sebantang tongkat telah menghilangkan kesadaranku ketika
perampok itu membentur tongkat itu ke kepalaku, yah ……hampa kurasakan ,
rumahku dibakar oleh perampok itu , untung saja aku diselamatkan oleh
tetanggaku namun sayang ….istriku tak tertolong !”,
senyap sejenak lalu kakek itu melanjutkan kembali “ aku hancur
….rasanya tiada artinya hidup ini lagi , aku ke jembatan ini , aku
ingin bunuh diri……!, namun gagal …aku diselamatkan oleh seorang wanita
miskin ketika aku ingin meloncat dari jembatan ini, lalu aku jatuh
sakit ….. aku dirawat oleh wanita miskin itu disebuah rumah yang lebih
layak dihuni oleh hewan, tak lama kesehatanku mulai membaik, lalu aku
memutuskan untuk menikahi wanita miskin itu, walaupun hidup susah namun
ada kebahagian diantara kami berdua , baru jalan tiga bulan , ia jatuh
sakit …..dan akhirnya meninggal ….aku tak dapat berbuat apa-apa …karena
tak mampu untuk membiayai pengobatannya….” Berhenti sejenak lalu kakek
itu menarik nafas panjang. “ engkau tahu anak muda bagaimana rasanya
kehancuran untuk kedua kalinya ? sakitnya tak dapat kuungkapkan padamu
, rasanya nyawakupun sudah tak berada ditempatnya, sama seperti
jawabanmu tadi ketika aku pertama sekali bertanya padamu , anak muda
!”. “ Aku tahu bagaimana perasaanmu , kek !” pemuda itu menimpali
omongan kakek itu.
Kakek itu kembali berkata , “ Aku kembali kemari , ke jembatan ini, dan
kali ini sudah bulat tekadku untuk mengakhiri semua kesialan yang
mengikutiku, tapi…..lagi-lagi aku gagal….seorang janda menggagalkan
niatku , ya….wanita itu adalah wanita yang kutinggalkan ketika aku
lebih memilih wanita kaya untuk menjadi istriku, dulu kami lama
berpacaran hingga akhirnya kutinggalkan ia demi gelimang materi….” . “
Suaminya menceraikannya karena ia tidak dapat melahirkan keturunan bagi
mereka, wanita itu ikhlas……ia menghidupi dirinya dengan sangat
sederhana, kami sangat berbahagia , ia mengajarkan arti sebuah
keikhlasan yang sangat dalam maknanya …..” .
“ Akhirnya keberuntungan berpihak padamu kek !”, pemuda itu berkata
dengan mantap. “ Tidak ……istriku yang ketiga inipun meninggal ketika
akan melahirkan anak kami yang pertama , anak yang sangat didambakan
olehnya , betapa hancurnya hatiku, anak muda, apalagi ketika anakku
itupun juga seakan tak ingin berpisah dengan ibunya ke alam
baka……..kini aku hanya sebatang kara…..tapi aku ikhlas …..Tuhan selalu
memberikan jawaban apabila kita sudah sepakat dengan waktu, jangan
pernah putus asa anak muda , sesungguhnya semalang apapun dirimu
sebenarnya engkau masih beruntung karena mungkin ada yang lebih malang
darimu.”
Kakek itu menoleh pada pemuda itu dan menepuk bahu pemuda itu , “
Apapun yang telah digariskan Tuhan padamu, yakinlah itu lebih baik dari
pada apa yang ingin engkau gariskan sendiri, anak muda !, dan satu lagi
pesanku, kebahagiaan bukan karena banyak atau sedikitnya harta yang
engkau miliki tapi bagaimana caranya kamu mampu mensyukurinya karena
disitulah letak kebahagiaan itu ! “. Pemuda itu hanya menganggukkan
kepalanya lalu kakek itu berkata “ Pulanglah, masih ada hari esok yang
lebih baik untukmu ……….!”.
Dalam : CERITA PENDEK FIKSI