Jembatan ditengah sebuah kota yang indah , terlihat seorang pemuda yang termenung sambil memandangi derasnya aliran air yang membelah dibawah jembatan itu. Matanya hanya menatap kosong , tak tahu pikirannya entah kemana saat itu. 

Ya….pemuda itu sedang dirundung kesedihan yang mendalam. Istrinya baru meninggal tadi pagi , jiwanya terasa hampa kini, hidupnya tak ubahnya bagai mayat yang bernyawa. Sedangkan disisi depannya sedang duduk seorang kakek tua dengan topi caping sambil kedua tangannya menggenggam sebatang bambu , tepatnya ia seperti sedang memancing di derasnya sungai kecil yang dihubungkan oleh jembatan tempat mereka berada. 

Matahari seakan tegak lurus diatas kepala mereka, namun teriknya tak membuat mereka berdua bergeming dari posisinya. “ apa yang sedang engkau pikirkan anak muda ? “ , kakek itu berbicara dengan pandangan tetap pada pancingnya, tak menoleh sedikitpun. Lalu kakek itu tersenyum kecil, “ Seandainya malaikat maut datang menyapamu , apakah engkau masih diam anak muda ? “ suara kakek itu terdengar agak nyaring. Lama senyap ……… “ Seandainya ada malaikat maut yang datang menyapaku , aku akan mengatakan agar ia segera mengambil nyawaku , kek !” tiba-tiba pemuda itu bersuara memecah keheningan diantara mereka berdua. “ Sepertinya engkau akan menjadi salah satu dari sekian banyak , orang yang mengakhiri hidup disungai ini…..!” lalu kakek itu melanjutkan “ apa masalahmu anak muda ? “. “ Siapa yang mampu hidup manakala orang yang dicintai dan dikasihinya telah tiada , kek ! “ lalu pemuda itu melanjutkan “ Istriku telah tiada tadi pagi , ia menderita sakit keras , sedangkan aku tak mampu berbuat apa-apa untuk mengobatinya …..” , suara lirihnya cukup menyayat hati seiring bulir – bulir air menetes dari matanya. 

Kakek itu berkata “ aku turut berduka cita , anak muda , hidup memang penuh misteri dan misteri itu hanya milik Tuhan ! kita selalu mengetahui misteri itu apabila waktu sudah sepakat untuk bercerita pada kita….” , kemudian kakek itu melanjutkan “ Apa yang engkau alami , sudah pernah kurasakan , mungkin selama ini aku adalah salah satu diantara mereka juga, mereka yang pernah putus asa dan termenung dijembatan ini, bahkan hampir mengakhiri hidupku dibawah sana….”. 

Pemuda itu menghampiri kakek itu dan duduk di sisi kanannya. “ lalu kek ? “ pemuda itu mulai penasaran terhadap kakek itu. Tanpa menoleh kakek itu kembali bercerita , seolah – olah matanya menerawang jauh , mengingat kenangan yang mungkin dirasakan pahit baginya. “ aku sudah menikah sebanyak tiga kali , istriku yang pertama adalah seorang yang kaya raya, seorang pedagang yang sukses walaupun masih dalam usia muda. Setelah kami menikah, kami selalu dihadapkan pada kesibukan mengejar harta, usaha kami maju dengan pesatnya, kami sungguh sangat berbahagia ….namun sungguh tak diduga…..kami kerampokan , istriku meninggal ketika ia ingin mempertahankan hartanya sedangkan aku tak mampu berbuat apa – apa karena sebantang tongkat telah menghilangkan kesadaranku ketika perampok itu membentur tongkat itu ke kepalaku, yah ……hampa kurasakan , rumahku dibakar oleh perampok itu , untung saja aku diselamatkan oleh tetanggaku namun sayang ….istriku tak tertolong !”, 

senyap sejenak lalu kakek itu melanjutkan kembali “ aku hancur ….rasanya tiada artinya hidup ini lagi , aku ke jembatan ini , aku ingin bunuh diri……!, namun gagal …aku diselamatkan oleh seorang wanita miskin ketika aku ingin meloncat dari jembatan ini, lalu aku jatuh sakit ….. aku dirawat oleh wanita miskin itu disebuah rumah yang lebih layak dihuni oleh hewan, tak lama kesehatanku mulai membaik, lalu aku memutuskan untuk menikahi wanita miskin itu, walaupun hidup susah namun ada kebahagian diantara kami berdua , baru jalan tiga bulan , ia jatuh sakit …..dan akhirnya meninggal ….aku tak dapat berbuat apa-apa …karena tak mampu untuk membiayai pengobatannya….” Berhenti sejenak lalu kakek itu menarik nafas panjang. “ engkau tahu anak muda bagaimana rasanya kehancuran untuk kedua kalinya ? sakitnya tak dapat kuungkapkan padamu , rasanya nyawakupun sudah tak berada ditempatnya, sama seperti jawabanmu tadi ketika aku pertama sekali bertanya padamu , anak muda !”. “ Aku tahu bagaimana perasaanmu , kek !” pemuda itu menimpali omongan kakek itu. 

Kakek itu kembali berkata , “ Aku kembali kemari , ke jembatan ini, dan kali ini sudah bulat tekadku untuk mengakhiri semua kesialan yang mengikutiku, tapi…..lagi-lagi aku gagal….seorang janda menggagalkan niatku , ya….wanita itu adalah wanita yang kutinggalkan ketika aku lebih memilih wanita kaya untuk menjadi istriku, dulu kami lama berpacaran hingga akhirnya kutinggalkan ia demi gelimang materi….” . “ Suaminya menceraikannya karena ia tidak dapat melahirkan keturunan bagi mereka, wanita itu ikhlas……ia menghidupi dirinya dengan sangat sederhana, kami sangat berbahagia , ia mengajarkan arti sebuah keikhlasan yang sangat dalam maknanya …..” . 

“ Akhirnya keberuntungan berpihak padamu kek !”, pemuda itu berkata dengan mantap. “ Tidak ……istriku yang ketiga inipun meninggal ketika akan melahirkan anak kami yang pertama , anak yang sangat didambakan olehnya , betapa hancurnya hatiku, anak muda, apalagi ketika anakku itupun juga seakan tak ingin berpisah dengan ibunya ke alam baka……..kini aku hanya sebatang kara…..tapi aku ikhlas …..Tuhan selalu memberikan jawaban apabila kita sudah sepakat dengan waktu, jangan pernah putus asa anak muda , sesungguhnya semalang apapun dirimu sebenarnya engkau masih beruntung karena mungkin ada yang lebih malang darimu.” 

Kakek itu menoleh pada pemuda itu dan menepuk bahu pemuda itu , “ Apapun yang telah digariskan Tuhan padamu, yakinlah itu lebih baik dari pada apa yang ingin engkau gariskan sendiri, anak muda !, dan satu lagi pesanku, kebahagiaan bukan karena banyak atau sedikitnya harta yang engkau miliki tapi bagaimana caranya kamu mampu mensyukurinya karena disitulah letak kebahagiaan itu ! “. Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya lalu kakek itu berkata “ Pulanglah, masih ada hari esok yang lebih baik untukmu ……….!”.