SUKA SAMA SUKA KOK MALU
Diposkan oleh zulanda pada Jumat, Juni 26, 2009 Dalam: CERITA BIASA
Kisah ini mungkin kisah biasa bagi anda, saking biasanya sudah menjadi fenomena yang mungkin wajar dan tak pernah kita analisa, mengapa hal ini bisa terjadi. Sebelumnya mohon maaf bila ada yang merasa tersinggung dengan kisah ini, karena sebenarnya kisah ini hanyalah salah satu diskripsi dari fenomena di masyarakat sekitar kita. Namun yang pasti akan mengundang pro dan kontra bagi pembacanya.........
Sabtu yang cerah,
hm........semua berawal dari hari itu. Seperti biasa seperti
minggu-minggu yang lalu , aku sudah pasti jadi ''penunggu'' setia
diflat kebanggaanku. Flat megah yang menghadap jalan wijaya yang tak
pernah henti dengan suara pluit tukang parkir diseberang jalannya.
Tersenyum bila aku memikirkannya karena dulu aku sering ilusi dibuat
suara peluitnya itu dan bahkan aku pernah meraih sepatu olah raga
dibawah tempat tidurku seolah-olah seperti peluit kumpul untuk olah
raga lari pagi. Tapi kisahku ini bukan tentang tukang parkir itu, tapi
ada juga hubungannya dengan pluit itu namun berbeda orang yang
menggunakannya. Usai berbenah pagi itu aku bertekad untuk ke blok M ,
kutatap jam dinding, hmm.....jam 10 pasti sudah buka pikirku tanpa ada
keraguan lagi diiringi senyumku yg sumringah penuh keyakinan. Singkat
cerita sampailah di Blok M , terus ke mall dan berbelanja sedikit
keperluan minggu ini, dan yang pasti sebungkus kuaci teman nonton tvku
seperti biasa. Lengkap pikirku dan akupun melenggang ke luar mall untuk
mencari bajaj. Diseberang jalan kulihat lambaian tangan kearahku,
''Bajaj mas...!'', teriaknya lantang. Kuhampiri dia , ''ke taman wijaya
berapa mas ?'',tanyaku sambil memegang pintu bajaj bututnya.'' 6000 aja
mas...!'',jawabnya mantap seakan tiada kesempatan lagi bagiku untuk
menawar lagi. ''Loh kok beda ? Kalau dari taman wijaya ke mari cuma
5000....... masa dari sini ke taman wijaya jadi 6000 ?'', kataku
bernada komplain. ''Maklum mas sekedar berbagi.......seribu buat uang
parkirnya mas ..!'', jawabnya seenaknya.'' Loh ini kan ini kan bukan
tempat parkir ?'' , lontarku sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari
tukang parkir sekitarnya, lagipula posisinya yg dikanan jalan
meyakinkan aku itu bukan kawasan parkir. ''Oh itu sudah biasa mas,
biasanya uang parkir dikumpul sama ketua kami, trus buat ngasih makan
siang dan minum 'mereka' '', ungkapnya dengan suara rendah (sambil
mengerlingkan mata ke petugas ditengah simpang itu).'' Kasihan juga mas
mereka kepanasan dijalan.....kalau 'ada', ngga ada salahnya berbagi kan
?'', bujuknya dengan senyum simpul.''Oklah...!'', gumamku seiring
anggukkan kepalaku mengiyakan. Lalu aku naik ke bajaj itu dan langsung
kontan suara bajaj menyalak keras seperti bunyi kaleng rombeng yang
diguncang krikil didalamnya. .''Memang ngga rugi ngasih petugas mas ?
Kan lumayan seribu ?'', suaraku seakan memecah deru bajaj
kesayangannya.''Gimana ya mas.......kalau saya pribadi ikhlas mas,
semenjak ada petugas disana , ngga ada lagi preman yang berani
mengganggu kami mas...!'', jawabnya penuh keyakinan dan mantap. ''
Petugas ngga pernah ngelarang ngetem disitu mas ?'' tanyaku ragu-ragu.
'' Oh ....pernah mas tapi lama-lama mereka juga kelihatannya kasihan
melihat kami ......maklum mas............. mana ada bajaj sekarang
sebebas dulu dijakarta mas'',ungkapnya tersirat kekecewaan
dimatanya.''Petugasnya mau terima ?'', tanyaku penuh selidik.
''Sebenarnya mereka menolak mas......... tapi akhirnya terima juga'',
jawabnya dan disambut senyum yang tersungging di bibirnya. Aku hanya
manggut manggut mendengarkan penjelasannya.'' Kanan mas .....ya masuk
gerbang itu....!'' kataku sambil menunjuk kekanan jalan. Kontan ia
mengerem dan membelok ke gerbang belakang kampusku dengan
ragu-ragu.''Mas polisi ya ? '', katanya tiba - tiba tapi pertanyaan itu
aku sudah tebak sebelumnya.''Mahasiswa mas ....!'',jawabku singkat
sambil turun dari bajaj miliknya. Kuronggoh saku kanan celanaku, ''Nih
mas....!'',kataku sambil menjulurkan tangan ke dalam bajajnya. Kali ini
dia mungkin pasrah menerima uangku sehingga tidak menghitung jumlahnya
lagi padahal aku ngasih 6000, yang seribu terselip didalam uang 5000.''
Maaf mas tadi saya salah ngomong....'', ungkapnya terdengar seperti
suara tercekik di telingaku.'' Oh....ngga apa apa mas.....lo wong suka
sama suka aja kok malu....!'', jawabku senyum-senyum penuh makna.
(Ternyata dihati supir bajaj dan petugas masih ada nilai kemanusiaan yg humanis , namun terganjal pertanyaan besar dibenakku, Apakah orang yang membuat peraturan itu punya hati yang humanis ? Hm.... Entahlah tapi yang pasti entah kapan semua sandiwara ini akan berakhir.................)
Dalam : CERITA BIASA