SURAT BUAT PRESIDEN DARI BOCAH DISURGA
Hari ini seperti biasa....... Kuliah dan kuliah yg
selalu mengisi rutinitasku. Jam menunjukkan angka 10.00, Prilaku Organisasi
pelajaran hari ini pikirku. ''Komunikasi organisasi'', tulisan itu terpancar
dari proyektor yg menghasilkan gambar slide lebar dengan gambar bunga matahari
di pojok kiri atas slidenya. '' Sekian lama...... aku menunggu.......
untuk..... kedatanganmu ....!'' Dendang nada yg sangat indah terdengar olehku,
kemudian beliau melanjutkan ''setiap syair berisikan komunikasi......'',lanjutn
''Om.....kasihan
om.....mau beli makan om.......'', Suara lirih penuh hiba sambil menjulurkan
tangan yg menengadah dan bergetar. Ia adalah sesosok manusia kecil yg kumal
....jorok......dan bau sengatan terik matahari bercampur keringat. Tertegun aku
sesaat melihat sosok yg begitu menyedihkan dimataku.....bibirnya
kering.....matanya cekung...... Ahhh.....sungguh menyentuh hati nurani. Tangan
kirinya menggenggam gulungan koran dan sebuah buku tulis kumal bergambar
tweety.'' Benar belum makan..?'', Tanyaku sambil berjongkok didepannya.
Anggukkan kepala penuh harap dengan sinar mata yg melemah dan sayu sekali....
'' Yok, ikut saya.....kita makan diwarung itu saja...!'' Ajakku sambil kuraih
pundaknya.
Kupesan sebungkus nasi dengan ayam goreng untuk bocah kumal itu , aku segan
mengajaknya makan di warteg itu, karena mata pemilik warung seakan berbicara
padaku. Hm....dia takut pengunjung warungnya kehilangan selera makan rupanya.
Kami duduk diteras trotoar jalan, aku tak makan .....karena perutku masih
terasa kenyang. '' Makanlah......!'', Kuberikan sebungkus nasi itu dan tanpa
ragu lagi langsung dilahapnya dengan rakus. Kupungut gulungan koran yang
dipegang bocah itu tadi. Hm.....terlihat gambar - gambar tokoh-tokoh pemimpin
bangsa ini, tapi ada gambar besar seperti bekas robekkan dari koran lainnya.
Jelas siapapun tahu siapa ''dia'' dalam gambar itu. '' Untuk apa gambar ini dek
? '', tanyaku sambil menunjukkan gulungan koran-koran bekas itu padanya. Dengan
mulut masih penuh nasi ia menjawab,'' Itu idolaku om......!'' katanya tak
begitu jelas namun jarinya menunjukkan pada salah satu sosok gambar yg
berukuran besar dibanding yang lain. Aku hanya mengangguk kecil tanda mengerti.
Luar biasa pesona orang yg digambar itu pikirku , seorang bocah kumal saja
sangat mengaguminya apalagi kaum berdasi analisaku. Kuraih buku tulis kecil yg
lusuh miliknya, '' Kamu masih sekolah....?'', Tanyaku sambil membolak-balik isi
bukunya. '' Sampai kelas tiga om.....!'', Sahutnya sambil merapikan bungkus
nasi yg sudah ludes dimakannya. '' Kenapa berhenti ? Emang kamu kerja ? '',
Tanyaku lagi.'' Kemaren saya masih jadi penyemir sepatu om......! Tapi kini
sudah tidak lagi.....kalah saingan om.......makanya saya jadi kuli pikul sekarang...!'',
Jawabnya lugas. Seketika keningku berkerut dan tak percaya dengan
ucapannya.....kuli panggul ? Mengangkat badannya yang kurus kering saja dia
sudah sesak nafas begitu, tapi cukuplah kusimpan dihati saja keheranan itu. ''
Kamu ngga mau sekolah lagi....? '' tanyaku sambil menatap wajahnya yg mulai
memerah lagi..... tdk pucat lagi seperti tadi. '' Ya tentu saja , om
.........dulu saya sekolah di pojok itu om...... '', tangannya menunjuk ke arah
pojok bangunan tua yg lama tak terpakai .........jauh dari layak pikirku.
Kemudian dilanjutkannya ,''Memang gratis om.....gurunya cuma
satu........pertama -tama gurunya sering datang....... lama-lama tak datang
lagi......sudah pindah kembali ke desa kata orang-orang''. ''Oh.....'', Gumam
ku singkat diiringi anggukan mengerti. Kubaca tulisan yg agak acak-acakan
disalah satu kertasnya......'' Surat
Buat Presiden Idolaku''. Keingintahuanku tergelitik untuk membaca tulisan itu
walau tampak seperti cakar ayam bagiku. Tulisannya ......
''Kepada Pak Presiden Idolaku, kapan bapak datang ke sekolah kami. Sudah dua bulan ini kami sudah tidak ada guru lagi. Guru kami sudah pulang kampung karena tak mampu hidup dikota , sehingga tidak bisa mengajar kami lagi. Pak presiden , kami mau sekolah, kami mau belajar, kami capek hidup dalam keadaan lapar, bagiku kerja sehari hanya dapat sebungkus nasi, tapi hari ini aku tidak dapat bekerja karena perutku lapar sekali.'' Berhenti sejenak aku membacanya dan memandanginya yg masih meminum air dibotol aqua miliknya. Ku lanjutkan lagi membacanya.....''Pak Presiden , saya mohon bapak bersedia datang ke sekolah kami dan membantu guru kami , supaya dia mau mengajar kami lagi. Terimakasih Pak Presiden. Kami menantikan kedatangan Bapak''.
Begitu pilu kalimat
anak ini pikirku........seperti suatu harapan yg tak mungkin terjadi dan
mustahil bagiku. '' Kapan surat ini akan kau kirim , dek ? '',Tanyaku
memecahkan lamunannya. ''Saya ngga tahu ,Om....tapi
saya yakin.... nanti saya pasti akan mengirimkannya....!''. Tersenyum aku
melihat keyakinannya yg begitu penuh tanpa keraguan sedikitpun,
tapi......kembali aku termenung ....... Begitu besarnya kepercayaan anak ini
bagi pemimpin negerinya, ''Luar biasa.......'', Gumamku pelan lanjut aku
menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepala. Kubalik lagi lembar demi
lembar buku lusuhnya itu. Hm......''surat buat ayahku disurga'', berdetak
jantungku seketika membaca judulnya, kulanjutkan membaca tulisan dibawahnya.....
'' Wahai ayahku.....bagaimana keadaanmu disana.....apakah ayah sudah sehat disana ? Bangunan tempat ayah bekerja dulu sudah jadi , yah.... ! Kini sudah menjadi gedung yg megah. Banyak orang lalu lalang disana, sayang ayah belum sempat melihatnya. Aku tahu, dulu Ayah dipecat bekerja disana, walau ayah berbohong padaku. Kini ibu jadi pemulung yah... Hari ini dia akan menjual sampah plastik yg dikumpulkannya. Sudah bertemukah ayah dengan Tuhan ? Tolong sampaikan doaku, yah..... Doakan Pak Presiden idolaku supaya tetap sehat ya, Yah...... dan bisikkan ke dalam hatinya agar mau datang ke sekolah kami. Aku rindu padamu, Yah......kapan ayah akan membalas suratku''.
Deg....deg.....jantungku
sesak membacanya tanpa kusadari mataku berkaca-kaca dibuatnya. Kembali aku
menarik nafas panjang dan kuhembuskan dengan perlahan-lahan.......Ya Tuhan
begitu mulia hati anak ini, walaupun dia masih hidup susah dan disaat
orang-orang krisis kepercayaan dengan pimpinannya, bocah ini masih memiliki
kepercayaan dan tak lupa mendoakan pemimpin negerinya......bahkan ia menitipkan
doanya dengan ayahnya di ''surga''.... Kutatap dia .....terlihat roh ayam mulai
merasukinya.... Kuronggoh saku celanaku ....kuberikan uang 32.000 , uang sisa
beli nasi tadi. '' Ambillah dek...!'', Tanganku memasukkan uang itu
ketangannya. ''Tidak Om....saya tidak mau menerima uang begitu saja.....kalau
nasi tadi karena saya sudah tidak tahan lagi, om....makanya saya minta -
minta...!'' suaranya dengan halus menolak pemberianku. ''Tak
apa.....ambillah....!'', desakku sambil menekan jarinya untuk menggenggam uang
itu. Lalu diterimanya uang itu dan dimasukkan dalam saku celananya. Tiba-tiba
dibukanya baju kaus kumalnya dan langsung mengelap sepatuku.'' Jangan
dek....!'' Tolakku menahan upayanya itu.'' Tolonglah, Om
.....jangan ajari saya menjadi pengemis.....walaupun ini tidak seimbang tapi
saya tetap mau berusaha ,om''. Akhirnya kubiarkan saja , apa yg dilakukannya
itu.'' Siapa namamu , dek...?'' Tanyaku. '' Arif. Om....!''
Jawabnya sambil terus menggosok sepatuku.
Setahun berlalu ..... dan kini aku kembali
ke kota itu.
Aku pergi ke lokasi dekat pasar dulu tempat anak luar biasa itu. Kini bangunan
tua dulu sudah menjadi sekolah kecil sekarang, Tertulis jelas dipapannya ''SEKOLAH ANAK JALANAN''.
Hm....setengah hari aku berkeliaran didalam pasar karena kelelahan aku duduk di
salah satu warung. Iseng-iseng aku bertanya kepada pemilik warung,'' Kenal Arif
, pak ?''. '' Oh Arif ......!'' berhenti sejenak.......'' anak itu sudah
meninggal , pak !'', suaranya lirih seperti masih diliput kesedihan. Bagai
tersambar petir bagiku , ''Meninggal kenapa pak ?'' tanyaku turut larut dalam
kesedihan itu. '' Dua bulan yg lalu dia jatuh sakit....karena TBC kayaknya
..... Kasihan..... untuk berobatpun ibunya tak ada biaya.....surat miskin tidak ada..... maklumlah pak, surat miskin sudah
menjadi barang mewah bagi kami orang miskin zaman sekarang. Tak satu katapun
terucap dimulutku.....selera makanku mendadak hilang seketika.....hanya
kata-kata menduga dalam benakku '' Akhirnya anak itu membuktikan janjinya untuk
menyampaikan suratnya itu, walaupun tidak langsung dengan manusianya tapi
langsung dengan Tuhannya'', Tertunduk aku, tampa kusadari air mataku
menetes.....lalu aku tersenyum dan menggelengkan kepala...
'' Arif ....ternyata engkau langsung menghadap Tuhanmu .......untuk menyampaikan doamu......... Doa untuk pemimpin negerimu....doa untuk sekolahmu.....doa untuk gurumu.....dan doa untuk kami yg masih hidup......sungguh tak kusangka seorang bocah kumal itu begitu mulia dibanding mereka yg selalu meneriakkan membela nasib bangsa tapi ............ternyata hanya DUSTA.................................
Dalam : CERITA PENDEK FIKSI